SEJARAH ZIKA
Pertama kali virus Zika dideteksi tahun 1948, dari monyet di Hutan Zika, Uganda. Jadi sepertinya Zika sendiri merupakan nama hutan di mana virus ini berhasil diisolasi. Sebelum tahun 2015, wabah virus ini hanya ditemukan di beberapa wilayah Afrika, Asia khususnya Asia tenggara, Mikronesia, Amerika Latin dan Karibia.
Sejak bulan Mei 2015, Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO) mengeluarkan peringatan mengenai infeksi virus Zika, yang pertama kali dikonfirmasi di Brazil. Transmisi virus Zika, telah dilaporkan di Commonwealth (Puerto Rico), Kepulauan Virgin Amerika Serikat dan Samoa. Sejak saat itu, wabah ini membiak ke banyak negara.
Sampai sejauh ini sudah 18 negara Amerika Latin dan Karibia yang melaporkan adanya infeksi virus Zika antara lain Brasil, Barbados, Kolombia, Ekuador, El Salvador, French Guiana, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Meksiko, Panama, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Suriname dan Venezuela.
“Virus Zika akan terus menyebar dan akan sulit untuk menentukan bagaimana dan di mana virus akan menyebar dari waktu ke waktu, ” tulis Pusat Pengendalian dan Pencehagan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, di laman web resmi lembaga tersebut.
Berdasarkan hal itu pula, lembaga CDC sejak 22 Januari 2016, mengaktifkan Pusat Operasi Darurat (EOC) untuk menanggapi wabah Zika. Hal itu menanggapi laporan CDC yang manyatakan terjadi peningkatan cacat lahir dan sindrom Guillain-Barré di daerah yang terkena Zika.
Dan CDC benar, 1 Februari 2016, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya mengumumkan Darurat Kesehatan Zika. Diminta seluruh negara di dunia saling membahu untuk menyelesaikan masalah wabah ini.
Masyarakat Peduli Kesehatan International (PHEIC) merespon pengumuman WHO dengan melakukan penelitian ke wilayah Zika, mereka menemukan banyak anak-anak yang lahir dengan microcephaly dan gangguan neurologis lainnya di beberapa daerah yang terkena Zika.
Selanjutnya 8 Februari 2016, lalu CDC meningkatkan status waspada ke Tingkat 1, tingkat tertinggi. Hal ini membuat CDC harus berkerja lebih keras, lembaga ini mencoba menjalin kerjasama dengan mitra kesehatan masyarakat internasional dan dengan negara bagian dan departemen kesehatan lokal untuk membuka posko siaga Zika dan memberikan layanan kesehatan terhadap masyarakat yang diduga terkena Zika.
Selain itu dilakukan kampanye dan memberikan informasi yang baik dan benar kepada para pelancong yang hendak menuju wilayah endemi Zika. Juga dilakukan kerjasama untuk pengadaan laboratorium kesehatan secara nasional untuk melakukan tes diagnostik. Kemudian berupaya segera mendapatkan informasi sekecil apapun tentang Zika untuk membantu mencegah penyebaran lebih lanjut.




