Elemen NIIS Terduga Pelaku Penembakan di Moskow

Komunitas Internasional termasuk Indonesia mengecam aksi serangan teroris di Gedung Crocus City Hal Moskow (22/3) yang menewaskan 133 orang.dan meluikai 145 orang.

SEBELAS tersangka pelaku penembakan di tengah konser musik di Crocus City Hall, Moskow, Rusia, Jumat malam (22/3) menewaskan 133 orang yang diduga berafiliasi dengan kelomok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS)N berhasil ditangkap.

Otoritas Rusia menyebutkan, para tersangka diduga anggota kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) dan melibatkan pihak Ukraina, walau hal itu dibantah dan dinyatakan tidak masuk akal.

Sejak 1999 tercatat enam kali serangan teror di Moskow yakni ledakan di apartemen di tenggara ibukota Rusia itu (18 Sept.) menewaskan 113 orang, penyanderaan di teater Dubrovka oleh kelompok separatis Checnya (23 Okt. 2002) menewaskan 130 orang, serangan bunuh diri di konser rock, Bandara Tushino (5 Juli ’23) menewaskan 13 orang.

Lalu ledakan di KA komuter Metro dilakukan kelompok Chechnya (6 Feb. 2004) menewaskan 41 orang, bom bunuh diri, juga di atas KA Metro, menewaskan 40 orang (29 Maret ’10), disusul bom bunuh diri di Bandara Domodedovo (24 Jan. 2011) menewaskan 37orang.

Dibandingkan dengan enam kejadian tersebut, serangan yang terjadi Jumat lalu paling mematikan dilihat dari banyaknya korban tewas (133 orang) dan yang luka-luka 145 orang.

Aksi penembakan massal dan beberapa ledakan terjadi di ruang teater Balai Kota Crocus di Kransnogorosk, barat Moskow setelah lima pria bersenjata bertopeng dan menyamar melepaskan tembakan ke arah orang-orang yang berkumpul di tengah konser Band Piknic.

Kemlu Rusia menyatakan, kelompok teroris kelompok Negara Islam Peovinsi Khorasan (IS-PK atau ISIS-K), afiliasi regional NIIS  berbasis di Asia Tengah telah mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan itu.

Serangan terjadi pukul 20:00 waktu Moskow. Sebelum band  memulai penampilannya, orang-orang bersenjata bertopeng dan mengenakan seragam tempur melepaskan tembakan ke arah penonton menggunakan senapan serbu, sementara saat penyerangan terjadi, kaum remaja yang menjadi korban sedang berada di gedung untuk kompetisi dansa ballroom.

Sosok Pria Berjengggot,

Seorang saksi menggambarkan,  para penyerang terindetifikasi sebagai pria berjenggot, sedangkan dari rekaman video amatir yang diverifikasi oleh BBC menunjukkan orang-orang bersenjata bertopeng menembak tanpa pandang bulu.

Jenggot yang dipelihara oleh banyak orang-orang asal Timur Tengah dan Asia Tengah sering dijadikan stigma bagi pelaku teroris, walau sekarang begitu mudahnya orang mengenakan jenggot palsu atau jika dibalik, orang yang tidak berjenggot tidak otomatis bukan teroris.

Rekaman lain yang diposting ke Telegram menunjukkan pria berseragam militer dan topi baseball menembaki kerumunan orang yang berteriak-teriak.

Para penyerang juga dilaporkan menggunakan alat pembakar dan   seorang saksi mata menyatakan, mereka menggunakan bom bensin untuk menyulut api di auditorium.

Rekaman video amatir yang diposting ke situs medsos menunjukkan kebakaran besar dan gumpalan asap mengepul dari gedung akibat pembakaran yang dilakukan oleh para penyerang.

Sementara menurut Presiden Rusia Vladimir Putin, para tersangka,  berkendara mobil menuju perbatasan Ukraina dan beberapa orang, diduga petugas perbatasan Ukraina mengizikan mereka masuk.

“Mereka hendak bersembunyi dan masuk ke Ukraina dan dari data sementara, ada beberapa orang dari sisi Ukraina membantu mereka menyeberang, “ kata Putin.

Sementara polisi setempat mengungkapkan, kendaraan para tersangka dikejar sekitar 340 Km dari Moskow setelah sebelumnya mengabaikan perintah untuk berhenti. Di mobil mereka ditemukan pisyol, magazin senjata laras Panjang dan paspor Tajkistan.

Sedangkan Asisten Presiden Ukraina Mykhailo Podolyak dalam pernyatannya (22/1) menampik tudingan Moskow dan menganggap kterlibatannya dalam aksi penyerangan itu tidak masuk akal.

“Perang Ukraina dan Rusia yang sudah berlangsung dua tahun lebih hanya bisa iselesaikan di medan perang (bukan mellui aksi teroris-red), “ seru Podolyak,

Selain kecaman dari PBB, China dan negara-negara Arab atas  serangan itu, negara-negara seteru Rusia termasuk Amerika Serikat, negara-negara anggota Uni Eopa menyampaikan simpatinya.

AS sendiri mengaku, kedubesnya di Moskow mengeluarkan peringatan dua pekan lalu tentang rencana yang akan dilakukan kelompok ekstrimis untuk menyerang Moskwa.

Menghadapi aksi teroris, negara beraliran atau berideologi apa pun harus bersama-sama dan bersikap tegas memeranginya, dan sikap standar ganda, pilah-pilah mana yang merugikan atau menguntungkan secara politis,  harus disingkirkan.

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here