MYANMAR – Aung San Suu Kyi, mantan tahanan politik penguasa militer Myanmar, terus mendapat tekanan yang meningkat atas ketidakpeduliannya untuk berbicara melawan perlakuan kekerasan atau terhadap rohingya.
Dia tidak berkomentar sejak pertengkaran terakhir terjadi pada 25 Agustus.
Malala Yousafzai, peraih Nobel perdamaian Pakistan, menyuarakan keprihatinannya atas masalah ini dalam sebuah pernyataan di Twitter.
“Setiap kali saya melihat berita tersebut, hati saya hancur karena penderitaan Muslim Rohingya di Myanmar,” Yousafzai, yang terkenal selamat ditembak oleh kelompok Taliban.
“Selama beberapa tahun terakhir saya telah berulang kali mengutuk perlakuan tragis dan memalukan ini. Saya masih menunggu peraih Nobel Aung San Suu Kyi untuk melakukan hal yang sama,” tambahnya.
Sementara Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman juga mempertanyakan keheningan Aung San Suu Kyi. “Sejujurnya, saya tidak puas dengan Aung San Suu Kyi,” kata Anifah kepada kantor berita AFP.
“(Sebelumnya) dia membela prinsip-prinsip hak asasi manusia. Sekarang sepertinya dia tidak melakukan apa-apa.” tambahnya lagi.
Selain itu, Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Senin (4/9/2017) bahwa dia mendesak para pemimpin dunia untuk berbuat lebih banyak untuk membantu Rohingya, yang menghadapi apa yang telah digambarkannya sebagai “genosida”.
“Anda melihat situasi dimana Myanmar dan Muslim berada,” kata Erdogan di Istanbul, di mana dia menghadiri pemakaman seorang tentara Turki.
“Anda melihat bagaimana desa-desa dibakar. Kemanusiaan tetap diam terhadap pembantaian di Myanmar”. ujarnya, dilansir Aljazeera.
Di akhir ucapannya, dia mengatakan Turki akan mengangkat isu tersebut di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York akhir bulan ini.





