
SUNGGUH tragis, nasib ratusan pengungsi asal Afrika Utara yang mendambakan hidup lebih baik, namun meregang nyawa sia-sia akibat kapal yang membawa mereka ke negeri impian karam di Laut Tengah (16/6).
Petugas gabungan Penjaga Pantai Yunani melaporkan, dari 700-an pengungsi di kapal nahas tersebut, 400 orang hilang, 78 ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dan 104 orang berhasil diselamatkan.
Di antara penumpang tercatat sekitar 100 anak-anak yang tidak satu pun mengenakan pelampung, sementara lokasi karamnya kapal di salah satu titik laut terdalam di Laut Tengah sehingga operasi penyelamatan juga lebih sulit dilakukan.
Badan Penjaga Perbatasan Uni Eropa Frontex semula mendeteksi keberadaan kapal berbendera Malta yang dijejali pengungsi tersebut di perairan Libya (Selasa, 13/6), lalu melaporkannya ke negara anggota UE terdekat yakni Itali dan Yunani.
Kapal diketahui mengalami kerusakan mesin pada Rabu, 14 Juni dini hari dan karam beberapa saat setelah laporan itu diterima.
Tragedi tersebut sontak menuai kecaman terhadap UE, antara lain oleh kelompok Dokter Lintas Batas (MSF) yang mempertanyakan kenapa pesawat Frontex yang mengamati kapal dengan muatan penumpang berlebih itu tidak meminta bantuan.
Jumlah pengungsi global, menurut Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) meningkat tajam menjadi 108 juta orang atau pada 2022 dan kini bertambah 19,1 juta orang akibat terjadinya berbagai konflik seperti Perang Rusia – Ukraina, konflik Sudan dan konflik Suriah yang sudah berlangsung sejak 2013.
Aliran pengungsi juga masih terus berdatangan dari sejumlah wilayah konflik di Arika Utara seperti Somalia dan Yaman, juga dari Asia seperti dari Afghanistan dan etnis minoritas muslim Rohingya di Myanmar.
Peningkatan jumlah pengungsi terbanyak dari Ukraina sejak invasi Rusia ke negara itu pada 24 feb. 2022 yang menciptakan 4,5 juta pengungsi ke sejumlah negara, juga pengungsi lokal sekitar 25 juta orang, atau lebih separuh penduduk Ukraina (45 juta orang).
Negara-negara UE sendiri dilematis menghadapi isu pengungsi karena di satu pihak, merupakan panggilan kemanusiaan untuk menolong mereka, di pihak lain perekonomian UE juga sedang sulit akibat Perang Rusia – Ukraina dan pasca pandemi Covid-19.
UNHCR juga mengalami kesulitan untuk menghimpun dana bagi penanganan pengugsi global. Di pihak lain, jaringan sindikat tindak perdagangan orang (TPPO) memanfaatkan para pengungsi dengan memungut bayaran saat mereka hendak berangkat ke negeri tujuan.
Masalah pengungsi adalah urusan kita semua, dan sudah sepatutnya, terutama negara-negara kaya meningkatkan kontribusinya untuk cawe-cawe menyelamatkan saudara-saudara kita yang terhimpit kesulitan dan berada pada dua pilihan, hidup atau mati, akibat kelaparan atau di tengah konflik.




