
JAKARTA, KBKNews.id – Langkah besar diambil oleh pemerintah melalui Danantara Asset Management dalam memperkuat otot logistik nasional. PT Pos Indonesia (Persero) resmi mengalami perombakan besar-besaran pada jajaran nakhodanya. Perubahan fundamental ini tertuang dalam Keputusan Para Pemegang Saham PT Pos Indonesia Nomor 168 Tahun 2026 yang ditetapkan pada 11 Maret 2026.
Restrukturisasi ini menandai berakhirnya masa jabatan Faizal Rochmad Djoemadi sebagai Direktur Utama dan diikuti oleh hampir seluruh jajaran direksi lama. Sebagai gantinya, Daud Joseph dipercaya untuk memimpin perusahaan yang memiliki jaringan lebih dari 4.000 kantor pos di pelosok negeri ini.
Restrukturisasi Direksi: dari Perangkapan Jabatan ke Formasi Lengkap
Sebelum perombakan ini, internal PT Pos Indonesia sempat menghadapi tantangan manajerial di mana struktur direksi tidak terisi penuh. Dari kebutuhan enam posisi, operasional perusahaan hanya dijalankan oleh tiga orang direksi. Akibatnya terjadi perangkapan fungsi strategis yang cukup berat.
Dalam manajemen baru ini, Daud Joseph akan dibantu oleh wajah-wajah baru yang mengisi posisi krusial, antara lain:
- Daud Joseph: Direktur Utama
- Donny Maya Wardhana: Direktur Operasi
- Fathul Anwar: Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko
- Rosma Handayani: Direktur Human Capital Management
- Fahdel Akbar: Direktur Komersial
- Prasabri Pesti: Direktur Transformasi dan IT (Satu-satunya direksi lama yang dipertahankan dengan penugasan baru).
Pelantikan jajaran direksi segar ini direncanakan akan berlangsung pada pekan depan untuk segera mengawal transisi bisnis perusahaan.
Penyegaran Komisaris dan Masuknya Figur Publik
Tidak hanya di level eksekutif, kursi dewan komisaris juga mengalami perubahan. Pemegang saham menunjuk figur komunikator kawakan, Fifi Aleyda Yahya, sebagai Komisaris PT Pos Indonesia menggantikan Gunawan Hutagalung.
Meski ada pergantian, Muhammad Budi Djatmiko tetap dipercaya menjabat sebagai Komisaris Utama. Budi dikenal sebagai akademisi dan praktisi ekonomi dengan latar belakang doktor ekonomi pembangunan dari Universitas Indonesia serta menjabat sebagai Ketua Umum APTISI.
Selain Budi, posisi strategis juga ditempati oleh Dr. Made Kartikajaya yang dikenal sebagai ahli strategi ekonomi dan intelijen. Kariernya yang panjang di Badan Intelijen Negara (BIN), terutama sebagai Deputi Bidang Intelijen Ekonomi, diharapkan mampu memperkuat analisis rantai pasok dan stabilitas ekonomi perusahaan dalam menghadapi persaingan logistik global.
Misi Besar: Menjadi Simpul Logistik Nasional dan Target Laba
Perombakan ini bukan sekadar pergantian wajah, melainkan bagian dari strategi besar pemerintah untuk menjadikan PT Pos Indonesia—yang kini mulai memperkenalkan branding PosINDO—sebagai simpul distribusi nasional. Targetnya jelas: perusahaan harus menjadi pusat ekosistem logistik negara dan berpotensi menjadi holding logistik BUMN.
Manajemen baru memikul beban berat untuk memenuhi target Presiden dalam mengoptimalkan aset negara. Target efisiensi yang dipatok adalah mencapai return on asset (ROA) minimal 10 persen.
“Perombakan ini diharapkan membawa angin segar bagi perusahaan sekaligus memperkuat langkah transformasi PT Pos Indonesia dalam menghadapi persaingan industri logistik yang semakin ketat,” demikian tersirat dalam misi penguatan sektor logistik BUMN tersebut.



