Trump Kembali Ingin Kuasai Greenland, Pulau Es yang Jadi Rebutan Geopolitik Global

Greenland, pulau terbesar di dunia yang menjadi wilayah perebutan. (Foto: Linblad Expedition)

Jakarta, KBKNews.id – Presiden Donald Trump kembali memantik kontroversi internasional setelah menyatakan keinginannya agar Greenland berada di bawah kendali Amerika Serikat. Dalam pernyataan terbarunya, Trump menegaskan Greenland sangat dibutuhkan AS dari sisi keamanan nasional, terutama di tengah meningkatnya aktivitas Rusia dan China di kawasan Arktik.

“Kita membutuhkan Greenland. Secara strategis, wilayah itu sangat penting,” ujar Trump kepada wartawan, sembari menyinggung keberadaan kapal-kapal Rusia dan China di sekitar pulau tersebut.

Pernyataan ini langsung menuai penolakan keras dari Greenland dan Denmark. Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen, menyebut gagasan tersebut sebagai “fantasi”. Sementara Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen menegaskan Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk mencaplok wilayah Kerajaan Denmark.

Ambisi Lama Trump Sejak Masa Jabatan Pertama

Keinginan Trump menguasai Greenland bukanlah hal baru. Pada 2019, saat masih menjabat di periode pertamanya, Trump secara terbuka menyampaikan minat untuk membeli Greenland dari Denmark. Tawaran tersebut ditolak mentah-mentah, dengan Denmark menegaskan Greenland “tidak dijual”.

Isu ini kembali mencuat setelah Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025. Kali ini, pernyataannya terdengar lebih agresif. Trump bahkan tidak sepenuhnya menutup kemungkinan penggunaan tekanan politik maupun kekuatan untuk mewujudkan ambisinya.

Ketegangan semakin meningkat ketika AS menunjuk utusan khusus untuk Greenland, Jeff Landry, yang secara terbuka berbicara soal menjadikan pulau es tersebut bagian dari Amerika Serikat. Kunjungan kontroversial Wakil Presiden AS, JD Vance ke Greenland pada Maret lalu, disertai kritik terhadap Denmark, turut memperkeruh hubungan antarsekutu NATO itu.

Greenland: Pulau Terbesar yang Selalu Diperebutkan

Greenland merupakan pulau terbesar di dunia yang bukan benua. Wilayah ini terletak di kawasan Arktik dan secara geografis berada di Amerika Utara, lebih dekat ke Kanada dibanding Eropa. Namun secara politik dan budaya, Greenland telah lama terikat dengan Eropa, khususnya Denmark.

Sekitar 80 persen wilayah Greenland tertutup lapisan es, dengan populasi sekitar 56.000 jiwa, mayoritas berasal dari komunitas Inuit. Sebagian besar penduduk tinggal di pesisir barat daya, termasuk di ibu kota Nuuk.

Meski tampak terpencil, Greenland sejak lama memiliki nilai strategis yang jauh melampaui jumlah penduduknya.

Dari Paleo-Eskimo hingga Kedatangan Viking

Sejarah Greenland membentang ribuan tahun ke belakang. Sekitar 4.500 tahun lalu, kelompok Paleo-Eskimo mulai menjelajahi wilayah ini, bertahan hidup dengan berburu di lingkungan Arktik yang ekstrem.

Klaim “formal” atas Greenland mulai dikenal pada akhir abad ke-10, ketika Erik the Red, seorang Viking yang diasingkan dari Islandia, tiba di pulau tersebut sekitar tahun 982–985 M. Ia menamai wilayah itu “Greenland” untuk menarik pemukim, meskipun kondisi alamnya sangat keras.

Permukiman Viking bertahan selama beberapa abad dan bahkan menjadi titik awal pelayaran Leif Erikson ke Vinland (Newfoundland). Namun, pada abad ke-15, komunitas Norse di Greenland menghilang, diduga akibat perubahan iklim, isolasi, dan runtuhnya jalur perdagangan.

Klaim Denmark dan Awal Kolonialisme Modern

Klaim modern Denmark atas Greenland bermula pada 1721, ketika misionaris Denmark-Norwegia Hans Egede tiba di pulau tersebut. Meski awalnya mencari keturunan Viking yang diyakini masih hidup, Egede justru menemukan komunitas Inuit Kalaallit.

Keberadaan Egede menandai awal kolonisasi Denmark. Ia mendirikan permukiman yang kelak menjadi Nuuk. Sejak saat itu Greenland berada di bawah pengaruh Denmark. Pada 1953, Greenland resmi dimasukkan ke dalam Kerajaan Denmark.

Menuju Wilayah Semi Otonom

Status Greenland terus berevolusi. Pada 1979, Greenland memperoleh pemerintahan sendiri, lalu otonominya diperluas pada 2009. Saat ini, Greenland mengatur hampir seluruh urusan domestik, seperti pendidikan, kesehatan, hingga pengelolaan sumber daya alam.

Namun, pertahanan dan kebijakan luar negeri masih berada di bawah kendali Denmark. Secara hukum, Greenland bukan negara merdeka, tetapi wilayah otonom yang perlahan bergerak menuju penentuan nasib sendiri.

Mengapa Greenland Sangat Penting bagi Amerika Serikat?

Minat Amerika Serikat terhadap Greenland menguat sejak Perang Dunia II. Ketika Nazi Jerman menduduki Denmark pada 1940, Greenland praktis terputus dari Eropa dan berada di bawah perlindungan AS.

Amerika membangun pangkalan militer dan stasiun cuaca di Greenland, menjadikannya titik vital dalam Pertempuran Atlantik. Pada era Perang Dingin, Greenland semakin krusial dengan dibangunnya Pangkalan Udara Thule—kini bernama Pituffik Space Base—sebagai bagian dari sistem peringatan dini terhadap rudal Soviet.

Menurut analis pertahanan Denmark, rute terpendek serangan nuklir ke AS adalah melalui Kutub Utara dan Greenland. Alasan inilah yang menjadikan pulau Greenland aset strategis utama dalam pertahanan Amerika.

Faktor Rusia, China, dan Sumber Daya Alam

Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia dan China meningkatkan aktivitas militer dan ekonomi mereka di kawasan Arktik. Laporan lembaga riset keamanan Arktik menyebutkan AS perlu memperkuat kehadirannya untuk menandingi dua kekuatan tersebut.

Selain aspek militer, Greenland juga menyimpan cadangan mineral langka, uranium, besi, serta potensi minyak dan gas. Pemanasan global dan mencairnya es membuat sumber daya ini semakin mudah diakses.

Trump memang menegaskan kepentingannya bukan soal mineral, melainkan keamanan nasional. Namun, banyak pengamat menilai faktor ekonomi dan sumber daya tetap menjadi daya tarik besar di balik ambisi Amerika Serikat.

Greenland di Persimpangan Sejarah

Hari ini, Greenland berada di titik persimpangan antara masa lalu kolonial, otonomi yang kian kuat, dan tekanan geopolitik global. Ambisi Trump untuk menguasai pulau ini menghidupkan kembali pertanyaan lama: siapa sebenarnya yang berhak menentukan masa depan Greenland?

Bagi penduduk Inuit Greenland, isu ini bukan sekadar persaingan kekuatan besar, melainkan soal hak menentukan nasib sendiri di tengah perebutan kepentingan global yang terus menguat.’

Sebagai informasi tambahan, Menteri Energi Greenland menyebut, sejumlah warga bahkan melaporkan mengalami gejala kesulitan tidur. Pernyataan Trump mengenai rencana menganeksasi atau membeli Greenland telah menimbulkan “kekhawatiran besar” di kalangan masyarakat setempat.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here