Tunisia: Jika Parpol Tidak (lagi) Dipercaya

Kais Saied (61) akademisi konservatif kandidat independen memenangi pilpres putaran kedua Tunisia yang digelar Minggu lalu (13/10), cerminan kegagalan parpol mewujudkan kemakmuran pasca revolusi 2011.

JIKA calon independen memenangi pilpres, berarti parpol sebagai pilar utama infrastruktur politik termasuk juga kader-kadernya yang berkiprah sebagai birokrat mau pun politisi sudah tidak dipercaya lagi.

Hal itu tercermin dari hasil putaran kedua Pilpres Tunisia, Minggu lalu (13/10) yang dimenangkan secara telak oleh oleh calon independen, akademisi Islam konservatif, Kais Saied (61).

Kemenangan Saied juga sebagai bentuk protes rakyat negeri di Afrika Utara itu atas kegagalan parpol mewujudkan kesejahteraan pasca tumbangnya rezim diktator Zine El Abidine ben Ali di tengah gerakan Musim Semi Arab (Arab Spring) pada 2011.

Ben Ali lengser pada 14 Januari 2011 setelah gelombang aksi massa akibat pengekangan dan kesulitan ekonomi yang mencapai puncaknya saat seorang pedagang buah bunuh diri karena lapaknya yang tanpa izin digusur petugas.

Selain Tunisia, gerakan Arab Spring 2011 juga melanda sejumlah negara Arab, a.l. Aljazair, Arab Saudi, Bahrain, Irak, Kuwait dan Libya walau tidak semua berujung jatuhnya rezim petahana.

Pada putaran II Pilpres Tunisia, menurut hasil lembaga survey Sigma Council, Saied menang telak dengan 76,9 persen suara dibandingkan lawannya, boss media Nabil Karoui dari Partai Qalb Tounes (Hati Tunisia). Di putaran I Pilpres September lalu, Saied mengumpulkan 18,4 persen suara dan Karoui 15 persen.

Dari hasil perolehan suara tersebut Saied akan menjadi presiden ketiga pasca revolusi Tunisia 2011 untuk periode 2019 – 2024 setelah Moncef Marzuki (2011 – 2014) dan Caid Beji Essebsi (2014 – 2019).

“Era mendikte rakyat sudah berakhir, kini di Tunisia berlaku prinsip kebebasan, “ ujar Saied dalam pernyataan kemenangannya.

Kemenangan mengejutkan Saied mencerminkan kehendak rakyat akan perubahan akibat kegagalan parpol mewujudkan kemakmuran sesuai cita-cita revolusi 2011. Anjloknya kepercayaan publik tampak jelas dari hasil perolehan kursi dalam pileg September lalu.

Partai Islam Konservatif Ennahda sebagai peraih suara terbanyak hanya mendapatkan 40 kursi di parlemen dibandingkan 69 kursi pada pemilu 2014, bahkan lebih ironis lagi, Partai Nidaa Tounes yang pada Pemilu 2014 memperoleh 86 kursi, cuma disisakan satu kursi saja.

Menurut Sigma Conceil, 90 persen pemilih Saied generasi milenial yang saat Revolusi 2011 masih ABG dan menyaksikan tidak ada perubahan hingga kini, bahkan merasa kehidupan bertambah buruk.

Pelajaran bagi parpol di mana saja, jika kehadiran kader-kader mereka, baik di birokrat maupun di DPR terasa semakin menjauh dari rakyat, jangan berharap lagi akan tetap menikmati priviledge dan kekuasaan. (AP/AFP/Reuters/ns)

e

Advertisement