Ukuran Jins di atas 32 berumur pendek?

28,7 persen penduduk mengalami obesitas dan satu dari lima anak kelebihan berat badan. (foto: youtube)

SELOROH Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) soal orang berukuran jins 33 – 34 bakal “lebih cepat menghadap Allah” alias meninggal menuai kontroversi di kalangan publik.

“Sebaiknya publik tidak perlu baper, karena seloroh menkes demi kesehatan bersama, nggak bermaksud untuk body shaming (mempermalukan orang terkait ukuran badannya – red), “ kaya aggota DPR Komisi III Ade Irma di Jakarta, Kamis (15/5).

Konteks pernyatan BGS itu sebenarnya adalah banyaknya faktor yang membuat usia sesorang lebih panjang, salah satu di antaranya menghindari obesitas dengan mewanti-wanti pria dengaan ukuran jeans di atas 32 sebagai ‘alarm’ ririko kematian tinggi.

Pria yang akrab disapa BGS tersebut sebetulnya tengah mewanti-wanti risiko kematian dini bila seseorang mengalami apa yang disebut sebagai obesitas sentral.

Obesitas sentral ditentukan dari ukuran lingkar pinggang, yakni untuk perempuan, jika melebihi 90 cm sementara pada laki-laki di atas 80 cm yang bisa memicu peningkatan risiko berbagai penyakit tidak menular a.l jantung, diabetes tipe 2 dan penyakit kronis lain.

Kesimpulan tersebut yang kemudian dinarasikan Menkes sebagai “orang dengan ukuran jeans 33-34 lebih cepat menghadap Allah.

Cara menghindarinya, menurut menkes, a.l. dengan mengatur asupan makanan, sesuai anjuran nabi, berhenti makan ebelum kenyang demi menekan risiko obesitas.

BGS juga menyebutkan pentingnya melakukan olah raga secara rutin paling tidak lima kali seminggu , dan menghindari pemicu stress sebagai resep panjang umur.

Risiko laki dan perempuan sama

Sementara Prof Dr Ketut Suastika SpPD-KEMD seperti dikutip detik,com menyebut risiko pada dua kelompok tersebut sebetulnya tidak jauh berbeda, namun, pada pria, risikonya memang bisa terjadi lebih awal.

“Perempuan jika kena penyakit kardiovaskuler saat masih di usia menstruasi bisa dicegah karena hormon estrogen-nya yang dapat mencegah penyakit tersebut masih cukup banyak, ” terang Prof Suastika.

“Perempuan yang belum menopause, lebih jarang terkena serangan jantung, walaupun sama-sama obesitas. Baru  setelah menopause, risikonya sama,” lanjutnya.

Ia juga sekaligus membenarkan pernyataan Menkes yang benar adanya, bila dikaitkan dengan risiko kematian dini akibat obesitas sentral.

Prof Suastika juga menjelaskan kaitannya obesitas dengan ukuran celana menggunakan  BMI (Body Mass Index) dan lingkar perut.

Dengan BMI atau IMT (Indeks Massa Tubuh), obesitas ditandai dengan skor 25 kg/m2 ke atas. Skor ini didapat dari perbandingan berat badan dalam kg, dengan kuadrat tinggi badan dalam meter.

“Kalau pakai lingkar perut, untuk laki lebih dari 90 (cm) dan perempuan lebih dari 80 cm. Ukuran celana 33-84 cm dan ukuran 34-87 cm,” jelas Prof Suastika.

Menurut catatan, prevalensi obesitas penduduk  dewasa di Indonesia mencapai 28,7 persen dan satu dari lima anak mengalami kelebihan berat badan.

Bagi umat beragama, kematian adalah rahasia dan hak prerogatif Allah, namun bisa dijelaskan secara medis penyebabnya.

Mengikuti pola makan minum  sehat, tidur cukup, olahraga rutin serta menghindari pemicu stress adalah ikhtiar yang harus dilakukan untuk memperpanjang usia harapan hidup.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here