UMKM Tertekan Imbas Harga Plastik Melonjak 40-70 Persen

JAKARTA, KBKNEWS.id – Harga plastik di Indonesia melonjak drastis hingga 50–70% per April 2026 akibat terganggunya pasokan bahan baku dari Timur Tengah yang dipicu konflik regional.

Kenaikan ini berdampak langsung pada pedagang pasar dan pelaku UMKM, karena plastik merupakan kebutuhan utama untuk kemasan sehari-hari.

Lonjakan harga terjadi pada berbagai jenis plastik, mulai dari kantong kresek hingga plastik kiloan. Misalnya, plastik kresek yang sebelumnya sekitar Rp10.000 per pak kini naik menjadi Rp15.000, sementara jenis lain meningkat dari Rp20.000 menjadi Rp25.000.

Kenaikan ini membuat biaya operasional usaha kecil ikut membengkak.

“Maaf ya ini belanjaannya semua disatuin satu plastik, soalnya lagi mahal,” ujar Nurhayati, penjaga warung sembako.

Biasanya, jenis belanjaan seperti makanan akan diberi plastik terpisah jika sekaligus membeli sabun, pewangi pakaian dan lain-lain. Tapi kali ini, mereka mengaku rugi kalau harus dibungkus dalam plastik terpisah.

“Harganya aja dua kali lipat naiknya, gila-gilaan,” tambahnya lagi.

Senada, Naira, penjual donat yang dikemas dalam mika mengaku terpaksa menaikkan harga donat yang biasa dijual Rp2000,- menjadi Rp2.500,-.

“Naikin dikit nggak apa-apa ya walau sebenernya masih ketutupnya dikit ini,” ungkapnya.

Diketahui, ada beberapa faktor utama di balik kenaikan ini. Pertama, konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi bahan baku plastik global.

Kedua, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik dari negara seperti China, Thailand, Korea Selatan, dan Arab Saudi.

Ketiga, kenaikan harga minyak dunia turut mendorong naiknya biaya produksi plastik, karena bahan bakunya berasal dari turunan minyak bumi.

Dampaknya, banyak pedagang terpaksa menekan keuntungan, bahkan mulai menaikkan harga jual produk untuk menutup biaya.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan kenaikan harga komoditas secara lebih luas, terutama di sektor makanan dan minuman.

Selain itu, ketidakpastian pasokan membuat harga plastik diperkirakan masih akan fluktuatif selama kondisi geopolitik belum stabil.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mulai mencari alternatif sumber bahan baku dari negara lain seperti India, Afrika, dan Amerika Serikat.

Namun, proses peralihan ini diperkirakan membutuhkan waktu dan belum tentu langsung menurunkan harga dalam waktu dekat.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here