
MENKES setidaknya telah mengidentifikasi delapan kasus virus Hanta (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome -HFRS atau demam berdarah dengan sindrom ginjal di DI Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara hingga 19 Juli ‘25.
Seorang pasien yang semula dirawat di RSUP dr Hasan Sadikin, Bandung , kata Jubir Kemenkes dr Widyawati (30/6), sudah dinyatakan sembuh, sedangkan seluruh pasien tidak mengalami gejala berat dan nihil risiko fatal.
Widyawati memastikan seluruh pasien saat ini sudah sembuh. “Kondisinya seluruh pasien sudah sembuh dengan tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) 0 persen,” katanya kepada detik.com, Senin (30/6).
Pasien dengan kondisi tersbut mengeluhkan demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise (lemas), dan ikterik jaundice atau tubuh menguning.
Namun Widyawati meminta masyarakat yang mengalami gejala tersebut tak perlu panik, cukup waspada,sedangkan pencegahan melalui kebersihan lingkungan sangat penting
Ia juga mengimbau warga untuk mengambil langkah-langkah untuk mencegah virus penyakit berasal dari tikus atau ordo rodensia atau hewan pengerat itu di area berisiko tinggi penularan.
Pertama, membersihkan rumah terutama bagian bagian yang sudah lama tidak digunakan sepeti gudang, loteng, atau ruang bawah tanah.
Kedua, menghindari sentuhan dengan tikus atau rodensia, baik dalam kondisi hidup maupun mati dan sebagai pencegahan masyarakat juga bisa mulai memasang perangkap tikus.
Kemenkes juga mengimbau agar kelompok orang yang berisiko tinggi tertular virus Hanta seperti petanai, buruh bangunan, tenaga lab dan dokter hewan untuk menggunakan alat pelindung diri (APD).
Jangan panik
Namun Wisyawati menghimbau, masyarakat yang mengalami gejala terpapar virus Hanta tak perlu panik, cukup tetap tetap waspada, sedangkan pencegahan melalui kebersihan lingkungan sangat penting.
Pemantauan di daerah rawan akan terus dilakukan bersama dinas kesehatan setempat untuk mencegah penularan lebih lanjut,” kata wanita yang akrab disapa Wiwid itu.
Kasus tersebut ditemukan berdasarkan surveilans hingga 19 Juni 2025, pasca semula ramai laporan virus Hanta di warga Bandung Barat yang tengah dirawat di RSUP Hasan Sadikin 20 Mei 2025.
Sementara Pakar epidemiologi Dicky Budiman mengingatkan, total kasus virus Hanta bisa jadi lebih banyak dari yang terlaporkan.
Surveilans yang dilakukan di Indonesia menurutnya relatif masih rendah. Terlebih, gejala virus Hanta relatif mirip dengan sejumlah penyakit lain.
“Salah satu masalahnya adalah gejala virus Hanta mirip dengan gejala leptospirosis, demam berdarah, dan sepsis, dan ini dapat menjadi penghalang untuk diagnosis dan pengobatan.
Virus Hanta belum banyak diteliti di Indonesia, tetapi beberapa penelitian kecil terhadap sampel darah menunjukkan antibodi virus Hanta, yang menunjukkan bahwa beberapa orang di Indonesia sebelumnya telah terinfeksi,” kata Dicky.
Menurut Dicky, kemampuan untuk mendeteksi virus masih terbatas, begitu pula literasi masyarakat tentang penyakit yang endemik di beberapa negara dan kemungkinan besar juga bakal endemik di Indonesia.
Ia menyebutkan, penularan di area permukiman padat relatif lebih mungkin terjadi, misalnya di pasar tradisional dengan sanitasi buruk, hingga area pertanian yang tidak dikelola dengan baik dan perluasan area banjir yang dapat memicu kenaikan populasi tikus dan paparan virus hanta melalui hewan pengerat itu. Waspada dan waspada!




