Wall Street Melemah, Saham-saham AS Tertekan Sentimen Geopolitik dan Kinerja Intel

OJK menilai kebijakan membuka data kepemilikan saham hingga ambang 1% mampu tekan praktik manipulasi harga atau “goreng saham" di pasar modal. (Foto: pixabay)

Jakarta, KBKNews.id – Pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Situasi ini menempatkan indeks-indeks utama Wall Street menuju penurunan mingguan dua pekan berturut-turut.

Tekanan datang dari anjloknya saham Intel setelah proyeksi kinerja yang mengecewakan. Selain itu juga ditambah sentimen geopolitik global yang kembali menggerus minat investor terhadap aset berisiko.

Pelemahan ini terjadi meskipun pasar sempat bangkit dalam dua sesi sebelumnya, usai aksi jual tajam pada awal pekan. Kala itu, pasar terguncang oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara Eropa terkait isu Greenland. Meski ancaman tersebut kemudian dilunakkan, tekanan jual belum sepenuhnya mereda.

Indeks Utama Wall Street Kompak Turun

Pada perdagangan Jumat pagi waktu setempat, pergerakan indeks saham AS tercatat sebagai berikut:

  • Dow Jones Industrial Average turun 320,71 poin atau 0,65% ke level 49.063,30
  • S&P 500 melemah 14,68 poin atau 0,21% ke posisi 6.898,78
  • Nasdaq Composite turun 36,50 poin atau 0,16% ke level 23.399,52

Dengan pergerakan tersebut, ketiga indeks utama diperkirakan menutup pekan ini di zona merah.

Saham Intel Jadi Beban Terbesar Pasar

Salah satu penekan utama Wall Street adalah saham Intel, yang anjlok tajam hampir 15% dalam satu hari. Produsen chip tersebut memproyeksikan pendapatan dan laba kuartalan di bawah ekspektasi pasar.

Intel mengakui masih menghadapi tantangan dalam memenuhi permintaan chip server untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Padahal, sejak awal tahun saham Intel telah melonjak sekitar 50%, sehingga koreksi kali ini dinilai cukup signifikan.

Seiring kejatuhan Intel, indeks saham semikonduktor juga terkoreksi sekitar 1,6%, menjauh dari rekor tertinggi yang sempat dicapai pada sesi sebelumnya. Sementara itu, indeks volatilitas Wall Street atau VIX kembali menguat, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor.

Investor Kian Selektif di Musim Laporan Keuangan

Chief Market Economist Spartan Capital Securities, Peter Cardillo, menilai pasar saat ini sangat sensitif terhadap proyeksi kinerja emiten.

“Musim laporan keuangan sebenarnya cukup baik, tetapi satu atau dua saham memberikan panduan yang kurang positif dan langsung dihukum pasar. Saat ini, proyeksi ke depan menjadi jauh lebih penting dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.

Menurut Cardillo, investor juga memilih bersikap hati-hati karena menanti arah kebijakan bank sentral AS.

Fokus Beralih ke The Fed

Pasar kini menanti pertemuan Federal Reserve pekan depan. Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%. Namun, perhatian utama investor tertuju pada pernyataan resmi The Fed dan komentar Ketua The Fed, Jerome Powell, untuk mencari petunjuk kebijakan selanjutnya.

Berdasarkan alat FedWatch dari CME Group, pelaku pasar mulai memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama akan terjadi pada Juni.

Emas Menguat, Aset Aman Diburu

Di tengah pelemahan saham, arus dana kembali mengalir ke aset aman. Harga emas melonjak ke rekor tertinggi. Ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan global.

Menanti Laporan “Magnificent Seven”

Pekan depan, perhatian pasar juga akan tertuju pada laporan keuangan saham-saham teknologi raksasa yang dikenal sebagai “Magnificent Seven”, termasuk Apple, Tesla, dan Microsoft. Kinerja dan panduan bisnis mereka dinilai krusial untuk menguji apakah reli pasar saham AS masih memiliki tenaga, terutama di tengah valuasi yang sudah tinggi.

Di sisi lain, pasar saham AS sejatinya masih ditopang oleh kondisi ekonomi domestik yang relatif solid serta ekspektasi penurunan suku bunga. Bahkan, sejumlah indeks saham berkapitalisasi kecil dan sektor transportasi sempat menyentuh rekor tertinggi pada perdagangan Kamis.

Pergerakan Saham Lainnya

Di luar tekanan pasar secara umum, beberapa saham mencatatkan kinerja positif. Nvidia menguat setelah laporan menyebutkan otoritas China memberi sinyal lampu hijau kepada perusahaan teknologi besar untuk memesan chip AI terbaru Nvidia.

Sementara itu, saham perusahaan tambang logam mulia di AS ikut menguat seiring lonjakan harga perak yang mendekati rekor tertinggi.

Secara keseluruhan, pasar saham AS masih dibayangi kombinasi faktor geopolitik, laporan keuangan emiten, dan arah kebijakan The Fed. Kondisi ini membuat investor cenderung lebih selektif dan defensif dalam menyikapi pergerakan pasar ke depan.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here