Warga Cemas: Jakarta Menuju Titik Balik

gambar artis Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) di bekas lokalisasi Kalijodo (republika.com)

RAFIQAH (36) , perempuan berhijab warga di Kebun Pala, Tanah Abang, Jakarta Pusat itu mengaku lega setelah  berdesak-desakan sejak pagi hari, berhasil menyalami Gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan juga berselfi-ria bersamanya di balaikota.

Perempuan beranak dua, karyawati BUMN di Jakarta itu, selain menyambangi balaikota, patungan dengan  rekan-rekan sekantornya mengirimkan karangan bunga sebagai simbul dukungan dan terima kasih pada Ahok dan wakil gubernur, Djarot Basuki seperti yang dilakukan  ribuan warga ibukota lainnya.

Kewalahan menerima kunjungan warga, Ahok pun membatasi jumlah kunjungan sebanyak 1.000 orang per hari dan akan menempatkan kiriman karangan bunga di kawasan silang Monas.

Selain berterima kasih atas kerja keras Ahok bagi Jakarta, kedatangan mereka juga diselimuti  kerisauan, ibukota akan kembali semrawut, kumuh, kacau sepeninggalnya nanti sebagai gubernur, begitu pula pelayanan publik yang dicemaskan kembali bergelimang praktek rasuah atau pungli.

Masih segar dalam ingatan,  Ahok mengalami perlawanan sengit dari warga yang terprovokasi para “musang berbulu ayam” yakni preman berpenampilan tokoh masyakarat atau agama untuk “menyulap” lokalisasi Kalijodo menjadi taman yang nyaman dan menyenangkan bagi publik dan anak-anak kini.

Dioperasikannya 80 rute bus Transjakarta di 12 koridor, antarkoridor, penghubung ke stasiun komuter, kawasan penyangga (Bekasi, Depok, Tangerang) dan layanan gratis ke dan dari kawasan Rusunawa, wisata (Balakota – Kalijodo) juga bagian dari kepemimpinan duet Ahok-Djarot yang dirasakan warga .

Tercatat 1.022 bus Transjakarta yang tersedia pada 2016 telah melayani 123,7 juta penumpang, dengan tarif Rp3.500 sekali jalan termasuk pindah koridor, sementara warga manula dibebaskan dari ongkos, cukup menunjukkan KTP.

Di tataran birokrasi, Pemprov DKI Jakarta menerapkan  “reward and punishment”  berdasarkan sistem meritokrasi dengan mengenakan sanksi bagi mereka yang bersalah atau lalai, mutasi atau alih tugas bagi mereka yang tidak berprestasi atau kerja asal-asalan, sebaliknya, pemberian tunjangan relatif besar bagi mereka yang berprestasi memberikan layanan terbaik bagi warga.

 

Penjarahan oleh oknum DPRD

Upaya menyelamatkan APBD dari jarahan oknum-oknum DPRD dan juga aparat termasuk dengan e-budgetting dilakukan Ahok, walaupun menuai kericuhan akibat perlawanan dari mereka yang puluhan tahun menikmati “bancakan” uang rakyat.

Kerisauan warga beralasan, mengingat gejala akan terulangnya kembali kesemrawutan atau penyimpangan yang sudah berhasil dihapus pada masa kepemimpinan Ahok.

Juru parkir liar yang memungut uang parkir seenaknya kembali muncul di kawasan Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA)  Kalijodo, begitu pula para pedagang asongan dan K-5 yang mengokupasi trotoar serta aksi premanisme lainnya.

Sebanyak 183 RPTRA dan Ruang Hijau Terbuka (RHT) sudah dibangun selama kepemimpinan Ahok-Djarot dan 108 lagi akan dirampungkan hari ini.

Pungli kabarnya mulai marak lagi di sejumlah pemakaman umum, sementara pedagang K-5 yang sudah ditertibkan di sejumlah lokasi termasuk di pasar Tanah Abang mulai memadati badan jalan dan lahan peruntukan publik lainnya.

Sejumlah warga yang sudah direlokasi dan mendapatkan rumah susun, dilaporkan kembali mendirikan tenda-tenda liar di Kampung Akuarium, Jakarta Utara dengan memanfaatkan euforia kekalahan Ahok-Djarot dan berharap perlindungan dari gubernur baru.

Kinerja Ahok-Djarot tidak diragukan lagi, mengingat tingkat kepuasan warga di atas 70 persen, walaupun ia kalah dalam pilkada lalu. Bukti penghargaan dari Bappenas yang berhasil disabet Pemprov DKI Jakarta menunjukkan kinerja mereka.

“PR” berat harus deselesaikan gubernur terpilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno  yang akan bertugas mulai Oktober nanti, terutama menertibkan kembali ibukota dari oknum-oknum aparat, penyerobot lahan, warga atau para pedagang K-5 yang memanfaatkan kepergian Ahok-Djarot dan “mencoba-coba” gubernur baru.

Tindakan tegas, bahkan menentang arus deras, menghadapi tokoh-tokoh berpengaruh dan preman yang menikmati kesemrawutan di ibukota diperlukan seperti yang dilakukan Ahok dengan susah payah.

Rasanya tidak cukup  dengan merangkul apalagi kompromi, berbaik-baik dengan mereka yang memang sejak awal sudah berniat busuk.

Anies-Sandi  nantinya juga harus berhadapan dengan orang-orang atau kelompok  yang menagih janji karena merasa ikut “berkeringat” mengantarkan keduanya menjadi penguasa Jakarta.

Semoga Anies-Sandi sukses sebagai pelayan dan pengayom seluruh warga dan membuat Jakarta tidak kembali ke titik NOL lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement