
ALIH-alih mereda pasca perundingan di Swedia Desember lalu, konflik di Yaman semakin mengganas karena kedua belah pihak mencederai proses perdamaian yang sedang berlangsung.
Pesawat-pesawat tempur koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, Sabtu lalu (19/1) melancarkan serangan udara terhadap tujuh fasilitas militer yang diduga digunakan untuk pengoperasian pesawat-pesawat nirawak (drone) milik milisi Houthi.
Perang saudara di Yaman yang sudah berkecamuk empat tahun dan menewaskan sekitar 10.000 orang, terjadi antara milisi Houthi dukungan Iran melawan pengikut setia mantan Presiden Abdurrabuh Mansour Hadi yang didukung koalisi militer Arab Saudi dan UEA.
Selain korban tewas, belum termasuk yang luka-luka, perang juga menyebabkan lebih sepertiga dari 29 juta penduduk Yaman terancam kelaparan dan jutaan mengungsi.
Serangan udara Saudi dan UEA Sabtu lalu merupakan pembalasan atas pengeboman Houthi oleh drone di tengah parade militer di sebuah pangkalan udara yang masih dikuasai rezim Mansour Hadi di Provinsi Lahij (10/1) sehingga beberapa tentara terluka.
Menurut TV Saudi Al Arabiya, salah satu yang disasar pesawat-pesawat tempur koalisi adalah pangkalan udara Al-Dulami di kota Sana’a yang dijadikan tempat penyimpanan drone-drone kiriman dari Iran dan juga kamp pelatihan militer Houthi.
Eskalasi konflik terbaru ini menyebabkan proses perdamaian putaran kedua yang sedang berlangsung dan inisiasi PBB mengakhiri konflik melalui gencatan senjata terutama demiliterisasi di kota pelabuhan Hodaidah menjadi berantakan.
Kedua belah pihak, sesuai isi kesepakatan perundingan Swedia, sepakat menyerahkan pengawasan Hodaidah – pintu masuk laut barang dan manusia utama ke Yaman – kepada PBB dan utusan mereka pekan lalu juga sedang berunding di Amman, Yordania terkait pelepasan tawanan masing-masing.
Entah apa yang terjadi jika di tengah gencatan senjata dan perundingan, perang jalan terus. (AFP/Reuters/ns)




