Konflik berdarah berkepanjangan di Yaman – negara termiskin di jazirah Arab – selain akibat perseteruan elit internal dalam perebutan kekuasaan, juga tidak lepas dari perebutan pengaruh kekuatan dunia yang menggunakan pihak lain sebagai tangan-tangannya (perang proxy) maupun negara-negara di sekitar kawasan itu.
Pemerintah Yaman Selatan yang didukung Uni Soviet dan Yaman Utara yang dikuasai oleh kelompok-kelompok kesukuan bersenjata bersatu pada 1994. Ternyata persatuan kedua negara yang berlangsung selama lebih dua dekade terakhir ini bersifat semu dan friksi-friksi lama dan ketidakpuasan terus menggumpal sehingga bagaikan bom waktu yang menanti saat tepat untuk meledak.
Di pihak kelompok selatan, persatuan Yaman (dengan utara) hanya menciptakan KKN, praktik korupsi dan aksi-aksi penjarahan terutama minyak bumi yang dihasilkan di wilayah selatan untuk digunakan kelompok Houthi dari utara.
Upaya PBB untuk menengahi kedua kubu yang bertikai sejauh ini menemui jalan buntu dan ditolak oleh presiden dalam pengasingan, Abd-Rabbu Mansour Hadi yang menganggap kesepakatan damai hanya akan membuka peluang bagi kubu Houthi untuk berbagi kekuasaan sehingga pada gilirannya hanya akan menumbuhsuburkan benih-benih konflik.
Konflik bersenjata yang pecah sejak sekitar 19 bulan lalu antara kubu selatan yang didukung koalisi sembilan negara Arab pimpinan Arab Saudi, AS dan Inggeris melawan kubu Houthi yang didukung Iran sudah menelan 10.000 jiwa dan juga menciptakan tiga juta pengungsi yang meninggalkan Yaman ke negara-negara tetangganya.
Korban-korban berjatuhan dalam beberapa pekan belakangan ini akibat serangan udara yang dilancarkan kelompok koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap basis-basis kubu Houthi. Salah sasaran pemboman terhadap sebuah penjara di Distrik Al-Zaydiyah, Hudaydah, Sabtu lalu (30/11) menewaskan 84 narapidana, dan selang beberapa jam kemudian bom-bom yang dijatuhkan menewaskan 18 warga sipil di wilayah Taiz. Sekitar tiga pekan sebelumnya, bom-bom yang dijatuhkan oleh pesawat-pesawat tempur koalisi pimpinan Arab Saudi juga menyasar kerumunan massa yang sedang mengikuti upacara perkabungan keluarga, menewaskan 140 orang dan menyebabkan sekitar 500 korban lainnya mengalami luka-luka.
Blokade ekonomi yang diberlakukan pihak koalisi juga memperburuk kondisi ekonomi Yaman, negara termiskin di jazirah Arab. Selain konflik internal yang sukar dicari titik temu penyelesaiannya, campur tangan asing termasuk dari negara-negara di Timur Tengah juga memberikan andil terjadinya konflik yang berlarut-larut.
“Para gajah bertarung, pelanduk mati di tengahnya, “ itulah yang tragedi yang terjadi di Yaman, dan pelanduk-pelanduk yang menjadi korbannya, tentu saja rakyat di negeri itu. (Oleh: Nanang Sunarto)





