Ziarah : Kebangkitan Peradaban

0
99

Sekarang  kata kebangkitan menjadi jargon yang populer. Apalagi dalam bulan Mei yang sudah kita  jadikan bulan Kebangkitan Nasional, merujuk pada pendirian organisasi gerakan Boedi Oetomo (BO), tanggal 20 Mei, 1908 oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo dan dr. Soetomo.

BO bertujuan membangun kesadaran berbangsa untuk melawan penjajah Belanda tidak dengan mengangkat senjata secara sendiri-sendiri di daerah masing-masing,  tetapi dengan menggunakan kekuatan pikiran. Salah satu caranya adalah “mengangkat pena” atau menulis gagasan-gagasan yang kemudian disebarluaskan melalui penerbitan untuk mempengaruhi dan menghimpun kekuatan.

 Mengacu niat BO, 90 tahun kemudian pada awal gerakan reformasi, tepatnya tahun 1998 muncul  gerakan “Indonesia Bangkit”. Karena tidak juga bangkit-bangkit, sekelompok orang yang sinis dan skeptis mengatakan, yang terjadi  adalah “Indonesia Bangkrut”. Tentu, kita tidak boleh pesmistis, apalagi sinis, sebaliknya harus tetap optimis dan berpikir positip.

Pada awalnya, setelah BO berdiri, istilah yang dipakai adalah “kebangoenan” (kebangunan), bukan kebangkitan. Masuk akal juga, jika bangsa ini dibaratkan sebagai orang yang sedang tidur, maka harus bangun dulu, baru kemudian bangkit. Pertanyaannnya hari ini, apanya yang bangkit?

Peradaban
Jawabnya adalah peradaban kita! Mengapa? Jawabnya: silahkan baca sejarah. Mengapa Indonesia dan hampir semua bangsa Asia dan Afrika  dijajah oleh bangsa Eropa? Jawabnya: kita kalah dalam peradaban dengan  bangsa-bangsa Barat.  Sejarah bangsa-bangsa menunjukkan bangsa berperadaban lebih tinggi selalu mengalahkan bangsa yang berperadaban lebih rendah

Lalu, apakah itu peradaban? Menurut kamus besar bahasa Indonesia, peradaban adalah  kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir bathin atau hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa dan kebudayaan suatu bangsa. Kecerdasan adalah kecanggihan dalam berpikir sebagai hasil pendidikan, sedangkan kebudayaan adalah buah dari peradaban

Ki Hajar Dewantara, bapak pendididikan nasional, yang kita peringati hari kelahirannya setiap tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, dalam salah satu tulisannya  di penerbitan “Wasita” tahun 1936, mengatakan kebudayaan adalah buah dari “keadaban” manusia.  Dan, adab adalah keluhuran budi, maka buahnya disebut  budaya,  tulisnya.

  “Budi”, menurut Ki Hajar dalam penerbitan “Pusara” 1948, adalah jiwa yang sudah masak, sudah cerdas dan karena itu sanggup dan mampu mencipta.  Budi manusia mempunyai sifat luhur dan halus, maka segala ciptaannya memiliki sifat luhur dan halus pula sesuai pelajaran etika dan estetika.

Karena budi manusia meliputi segala gerak- gerik pikiran, rasa dan kemauan kita, maka kebudayaan  sebagai buahnyameliputi ketiga hal itu pula. Buah pikiran meliputi ilmu pengetahuan, pendidikkan dan pengajaran, filsafat.  Buah perasaan mencakup segala sifat keindahan dan keluhuran bathin, kesenian, adat istiadat, kenegaraan, keagamaan dan kesosialan. Sedangkan buah kemauan dapat berupa industri, pertanian, perkapalan dan bangunan, tulisnya lebih lanjut.

Belakngan , kita temukan orang pandai dan  berpendidkikan tinggi belum tentu berbudaya tinggi, karena yang terakhir itu memerlukan pengamalan atau praktek sehari-hari dalam kurun waktu yang cukup lama. Membuat orang pandai lebih mudah daripada membuat orang berbudaya, apalagi beradab tinggi.  Memang, harus diakui: orang berpendidikan lebih mudah diajak menjadi beradab.

Jadi, yang pertama-tama dibangkitkan  adalah kesadaran atau jiwa. Persis seperti bunyi lagu Indonesia Raya itu:  bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.  Pertama jiwanya, karakternya, sikap mentalnya atau mindset (pola pikirnya) yang harus dibangun, baru kemudian ilmu dan ketrampilan teknisnya. Agama, budaya dan kearifan lokal adalah sumber pedoman pembentukan karakter.

Bung Karno pada tahun 1960an telah mencoba membangkitkan bangsa Indonesia melalui seruan Trisakti: berdaulat di bidang politik,  berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan.  Hasilnya: merdeka dan berdaulat dalam arti diakui eksistensi kita oleh bangsa lain, yes. Tapi dalam bidang ekonomi kita belum berdikari, bahkan tergantung pada hutang luar negeri dan impor pangan, sementara sumber daya alam negeri ini dikuras habis-habisan. Karena itu, kini lantang diserukan kedaulatan pangan.  Di bidang kebudayaan  agak sulit menjawabnya. Mungkin stagnan atau bahkan mundur.

Salah satu bukti kongkritnya adalah maraknya korupsi dan sikap transaksionalisme dalam pelaksanaan Pemilu Legislatif, 9 April, 2014. Ditemukan banyak kecurangan dan orang-orang yang berkapasitas dan berintegritas kalah dengan orang yang mengandalkan popularitas  berkat politik uang (money politics). Calon pemilih terang-terangan minta uang atau sembako dan banyak caleg yang sejak awal sudah menyediakan apa yang diminta itu. Klop, sama-sama “matrek”. Tapi, karena pemimpin harus memberi contoh, saya lebih menyalahkan yang memberi.

Dengan wakil rakyat yang memperoleh kedudukan dengan cara yang tidak beradab tinggi, kebangkitan yang diharapkan akan sulit terjadi. Alasannya, mau tidak mau, suka tidak suka, nasib bangsa ini lima tahun ke depan akan ditentukan oleh keputusan politik mereka. Tak perlu pesimis, justru sebalkiknya, ayo bangkit untuk membangun politik yang beradab, “prophetic politics” (politik profetik atau kenabian), meneladani para nabi dan rasul.

Bagi umat Islam, pedomannya adalah empat akhlak Muhammad Rasulullah Saw, yakni Siddiq (benar), tabligh (menyebarkan kebenaran dengan cara mendidik), amanah (dapat dipercaya)  dan fathanah (penuh kearifbijaksanaan).  Sekali lagi, mari kita bangkitkan politik profetik melalui jalan lurus, tanpa main fulus.  – Parni Hadi, Pempimpin Umum KBK

Advertisement div class="td-visible-desktop">

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here