Skadron TNI-AU akan Diperkuat Naga Perkasa J-10C

Menhan Sjafrie Samsoeddin memastikan rencana pembelian jet tempurJ-10 buatan China untuk memperkuat skadron pesawat tempur TNI-AU (foto: Chengdu Aircraft Industry Corp). Foto (CAIC)

MENTERI Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memastikan, TNI-AU akan memperkuat skadron pesawat tempurnya dengan jet multi peran bersayap delta, Chengdu (Naga Perkasa)  J-10C buatan China.

Menhan tidak merinci lebih jauh soal harga pesawat, cara pembayaran, jumlah yang dibeli  maupun jadwal kedatangan pesawat tersebut. Namun pernyataan itu menjadi sinyal paling kuat,  Indonesia akan benar-benar menambah armada jet tempurnya dengan produk dari negeri Tirai Bambu itu.

Sebelumnya, Karo Humas Setjen Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang, menjelaskan bahwa rencana pembelian J-10 masih dalam tahap pengkajian TNI-AU.

“J-10 memang sedang dikaji oleh TNI-AU. Kita ingin memastikan platform alutsista yang diambil benar-benar terbaik,” kata Frega di Kantor Kemenhan, Jakarta Pusat, Kamis (18/9).

Ia menambahkan, pengkajian ini penting agar pembelian J-10 benar-benar memperkuat sistem pertahanan udara nasional.

Soal nilai anggaran, Frega menegaskan belum ada pembahasan resmi di Kemenhan. “Belum sampai ke angka anggaran. Semua masih dikaji dari sisi teknis dan strategis,” ujarnya.

Menguat

Sinyal dari media asing mengenai rencana pembelian   pesawat tempur buatan China itu menguat setelah sebelumnya beredar luas di media sosial di luar negeri.

Mengutip laporan media Perancis Intelligence Online, akun tersebut menuliskan bahwa kontrak pembelian sempat tertunda karena persoalan pendanaan.

Kini, kontrak itu disebut akan dilanjutkan dengan skema pembayaran dari pihak China. Jika terealisasi, J-10C akan menjadi tambahan signifikan bagi kekuatan udara Indonesia, berdampingan dengan pesawat tempur Rafale buatan Perancis yang tiga unit pertamanya dijadwalkan tiba, Februari atau Maret 2026.

“Rencananya antara Februari atau Maret (2026), kita akan menerima batch pertama tiga pesawat dulu,” kata Kastaf Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono.

Menurut Tonny, kedatangan Rafale dan kemungkinan masuknya J-10C akan menambah daya gentar udara Indonesia yang kini mengoperasikan armada seperti Sukhoi Su-30,       F-16, Hawk 100/200, dan T-50i.

Chengdu J-10C, disebut-sebut  sebagai pesawat generasi 4,5 dengan kemampuan hampir sekelas F-16 buatan AS.

Dalam wawancara dengan CCTV pada awal Oktober, Wang, perancang utama J-10C, menjelaskan bahwa versi terbaru ini mengalami peningkatan besar dibanding model sebelumnya.

“J-10C kini dapat membawa lebih dari 40 jenis persenjataan, naik drastis dari hanya sekitar 10 pada model sebelumnya,” ujar Wang.

Multi peran

Pesawat J-10C memiliki kemampuan multi-peran, bisa digunakan untuk misi udara, darat, maupun maritim.

Desainnya dilengkapi sistem air intake berbentuk bump untuk meningkatkan aliran udara ke mesin serta canard di bagian depan yang membuatnya lebih stabil dan lincah di kecepatan tinggi.

Fitur unggul lainnya adalah radar Active Electronically Scanned Array (AESA) yang memungkinkan pilot melacak banyak target sekaligus dengan risiko gangguan sinyal yang minim.

“Radar AESA memberi keunggulan signifikan dalam mendeteksi dan mengunci target, bahkan dalam kondisi peperangan elektronik yang kompleks,” tutur Wang.

Selain radar canggih, J-10C juga dibekali sistem perang elektronik (EW) mutakhir yang membantu pilot menghindari deteksi musuh.

Pamor J-10C sebagai pendatang baru jet tempur melejit di tengah nama-nama besar seperti F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon sampai F-35 Lightning (buatan AS), berbagai seri Sukhoi (SU-27-SU-30, SU-35) dan MiG-29 eks-Rusia),  setelah terbukti keandalannya dalam duel udara (dog fight) sesungguhnya.

Dalam pertempuran udara antara India vs Pakistan, 11 Mei lalu, J-10C AU Pakistan berhasil  menjatuhkan sekaligus lima pesawat tempur India terdii dari dua Rafale, dua Sukhoi SU-30 dan satu MiG-29.

Sebagai perbandingan. Harga satu uni J-10C sekitar 60 juta dolar AS (sekitar Rp990 milyar), F-15 EX (80 – 100 juta dollar AS atau setara antara Rp 1,63 triliun dan Rp 1,65 triliun dan Rafale antara 115 – 125 juta dollar AS (antara Rp1,9 triliun sampai Rp2,6 triliun.

Memiliki kekuatan udara yang mumpuni , penting sebagai efek  deterren (penangkal) agar lawan tidak coba-coba menganggu kedaulatan RI, namun ketersediaan anggaran sesuai prioritas juga perlu dihitung secara cermat. (ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here