Arab Saudi Tolak Blokade AS atas Iran, Khawatir Bab al-Mandeb Ikut Terkunci

Sekjen PBB Antonio Guterres melontarkan kritik tajam terhadap tindakan militer AS yang melakukan blokade di Selat Hormuz. (Foto: www.eoearth.org)

Jakarta, KBKNews.id – Arus geopolitik di Timur Tengah kembali bergejolak setelah Arab Saudi secara terbuka menyatakan ketidaksepakatannya terhadap langkah drastis Amerika Serikat (AS). Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, Washington berupaya memperketat blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Namun, sekutu utama AS di Teluk, Arab Saudi, justru memperingatkan langkah tersebut dapat memicu efek domino yang melumpuhkan jalur perdagangan energi dunia.

Laporan eksklusif dari Wall Street Journal (WSJ) mengungkapkan pemerintah Arab Saudi kini tengah mendesak pemerintahan Trump untuk segera menghentikan blokade di Selat Hormuz dan kembali ke meja diplomasi. Riyadh khawatir, alih-alih melumpuhkan Teheran, tekanan ekstrem ini justru akan memicu eskalasi militer yang tak terkendali.

Efek Domino: dari Hormuz ke Bab al-Mandeb

Kekhawatiran utama Arab Saudi terletak pada potensi balasan Iran di titik nadi perdagangan lainnya. Saat ini, Selat Hormuz memang menjadi titik pusat konflik, namun Saudi memandang ancaman nyata ada di Selat Bab al-Mandeb, gerbang krusial di Laut Merah yang berdekatan dengan Yaman.

Blokade total yang diterapkan AS terhadap akses keluar-masuk pelabuhan Iran bertujuan untuk mencekik ekonomi Teheran. Namun, para pejabat Saudi memperingatkan Washington, Iran memiliki kartu as melalui sekutunya, kelompok Houthi di Yaman, untuk menutup akses Laut Merah. Jika ini terjadi, jalur alternatif minyak Saudi yang mengalir melalui gurun ke Laut Merah pun akan ikut tercekik.

“Jika Iran bermaksud menutup Bab al-Mandeb, Houthi adalah mitra paling strategis untuk melakukannya. Rekam jejak mereka dalam konflik Gaza membuktikan bahwa mereka memiliki kapasitas tersebut,” ujar Adam Baron, pakar Yaman dari New America, sebagaimana dikutip dari Wall Street Journal.

Diplomasi di Balik Layar dan Ancaman Terbuka

Meskipun hubungan kedua negara sempat mengalami pasang surut, Riyadh belakangan ini lebih memilih jalur komunikasi aktif dengan Teheran. Pasca-kegagalan negosiasi perdamaian antara Iran dan AS di Islamabad beberapa waktu lalu, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, langsung menghubungi mitranya, Abbas Araghchi, untuk meredam tensi.

Di sisi lain, Teheran tidak tinggal diam. Isyarat ancaman mulai dilontarkan melalui saluran semi-resmi mereka. Penasihat kebijakan luar negeri pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan posisi Selat Bab al-Mandeb kini setara pentingnya dengan Selat Hormuz dalam kalkulasi perang mereka.

“Jika Gedung Putih bersikeras mengulangi kesalahan fatalnya, mereka akan segera menyadari aliran energi dan perdagangan global dapat berhenti total hanya dengan satu komando,” tulis Velayati dalam unggahan media sosialnya.

Militer Iran bahkan mengeluarkan pernyataan lebih keras melalui IRIB News. Mereka menyatakan, jika keamanan pelabuhan mereka di Teluk Persia terancam, maka tidak akan ada satu pun pelabuhan di kawasan tersebut yang aman.

Keterbatasan Kekuatan Amerika

Upaya Trump untuk menguasai jalur air internasional ini menghadapi tembok besar. Dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas cair (LNG) dunia yang melintasi kawasan ini, setiap gangguan kecil langsung memicu lonjakan harga minyak hingga melampaui angka 100 USD per barel.

Meski Gedung Putih melalui juru bicaranya, Anna Kelly, bersikeras kebijakan ini bertujuan agar Iran tidak bisa “memeras” dunia internasional, realita di lapangan menunjukkan hal berbeda. Penolakan dari Arab Saudi menunjukkan strategi “tekanan maksimum” AS mulai diragukan oleh sekutu terdekatnya sendiri.

Status quo yang telah terjaga selama puluhan tahun di Timur Tengah kini berada di titik nadir. Bagi Arab Saudi, pilihannya jelas: stabilitas ekonomi dan keamanan jalur pelayaran jauh lebih berharga daripada mengikuti ambisi blokade total yang berisiko membakar seluruh kawasan.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here