Kembali kepada Allah ketika Langkah Menemukan Jalan Buntu

Ilustrasi salat malam (Foto: Generated by AI)
JAKARTA, KBKNews.id – Setiap manusia dalam perjalanan hidupnya pasti akan bersinggungan dengan berbagai ujian dan persoalan. Mulai dari himpitan ekonomi, lilitan utang yang tak kunjung usai, kegagalan dalam merintis usaha, hingga ujian berupa penyakit berat yang menimpa diri atau keluarga tercinta.
Berbagai problematika ini sering kali menguras energi dan emosi, hingga pada suatu titik, manusia merasa telah sampai pada batas akhir kemampuannya.
Kondisi terjepit seperti ini sangat natural dan manusiawi. Ketika semua ikhtiar lahiriah telah dikerahkan, nalar telah dikuras habis, dan berbagai alternatif solusi tidak lagi membuahkan hasil, perasaan putus asa kerap kali membayangi.
Di momen-momen kritis inilah tidak jarang seseorang terbetik pemikiran ekstrem untuk menyerah total, memilih jalan pintas seperti perceraian yang tidak perlu, menutup paksa pintu rezeki, atau bahkan yang paling fatal adalah keputusasaan untuk mengakhiri hidup.
Namun, bagi seorang mukmin, situasi buntu ini seharusnya bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah momentum transisi spiritual yang krusial. Batas kemampuan manusia memang ada ujungnya, bahkan selevel para nabi dan rasul pun digambarkan dalam Al-Qur’an pernah berada pada fase yang amat genting di mana kapasitas kesabaran mereka diuji hingga batas maksimal. Hal ini sebagaimana diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surah Yusuf ayat 110:
حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا
“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (berputus asa) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan Kami…”
Melalui dalil tersebut, kita diajarkan sebuah rahasia ilahi: bahwa Pertolongan Allah sering kali datang justru di saat manusia benar-benar telah kehabisan segala daya, upaya, dan strategi. Ketika ego dan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri telah runtuh di titik nadir, barulah ruang kepasrahan total (tawakal) itu terbuka lebar. Saat seorang hamba dengan jujur mengakui di dalam hatinya bahwa “hanya Allah yang bisa menolong,” di situlah esensi keimanan yang sesungguhnya diuji dan dibuktikan.
Kisah keteguhan iman di saat buntu ini dapat kita teladani dari perjalanan Nabi Musa ‘Alaihissalam ketika dikejar oleh Firaun dan bala tentaranya yang berjumlah ribuan. Secara logika manusia dan sains, ruang gerak Nabi Musa telah habis karena di hadapan beliau terbentang lautan luas, sementara di belakang musuh sudah tampak di depan mata. Kaum Bani Israil yang menyertai beliau pun didera pesimisme luar biasa hingga berteriak pasti akan tertangkap, sebagaimana terekam dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 61-62.
Namun, di tengah kebuntuan mutlak tersebut, obor iman di dada Nabi Musa tetap menyala dengan terang benderang. Meskipun beliau sendiri belum mengetahui secara konkret apa bentuk jalan keluar yang akan diberikan, beliau menjawab dengan penuh keyakinan yang kokoh: *Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Jawaban ini murni lahir dari iman, yang kemudian disusul dengan perintah tidak masuk akal bagi nalar manusia, yaitu memukulkan tongkat hingga lautan terbelah menjadi jalan keselamatan.
Teladan agung serupa juga ditunjukkan oleh kekasih Allah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, saat beliau berhijrah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Meskipun nabi telah mengatur strategi matang dengan bersembunyi di Gua Tsur dan menghapus jejak kaki menggunakan gembalaan domba, kaum kafir Quraisy dengan pakar pelacaknya tetap mampu menemukan lokasi gua tersebut. Mereka bahkan telah berdiri tepat di depan mulut gua, sebuah kondisi di mana secara militer dan intelijen nabi sudah terkepung total dan tidak bisa melarikan diri ke mana pun.
Dalam kepasrahan total di dalam gua yang sunyi itu, Abu Bakar sempat berbisik khawatir bahwa jika musuh melihat ke arah kaki mereka, mereka pasti akan ketahuan. Di sinilah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan tingkat keimanan yang paling sempurna menenangkan sahabatnya dengan kalimat legendaris yang juga diabadikan dalam Surah At-Taubah ayat 40: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Allah pun memalingkan pandangan kaum Quraisy sehingga mereka mengira gua itu kosong, sebuah bentuk pertolongan gaib tanpa nabi harus melempar debu atau melakukan perlawanan fisik.
Dua kisah besar di atas menjadi lentera abadi bagi setiap muslim yang sedang menghadapi badai kehidupan yang menghimpit. Ketika Anda merasa kehabisan akal, kehabisan modal, atau kehabisan jaringan, ingatlah bahwa Anda tidak boleh kehabisan iman. Pintu Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya pintu yang tidak pernah dikunci dan tidak akan pernah kehabisan solusi. Di titik paling nadir itulah, kalimat zikir “La haula wala quwwata illa billah” (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) harus benar-benar dihidupkan dalam jiwa, agar kita sadar bahwa setiap jalan keluar murni merupakan karunia-Nya, bukan karena kehebatan atau kecerdasan strategi kita pribadi.
Disarikan dari Ceramah Ustaz Muhammad Arifin Badri, M.A berjudul “Ketika Nabi Musa dan Nabi Muhammad Menghadapi Kebuntuan Jalan Hikmah dan Pelajaran dari Dua Kisah Agung”
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here