Bersekongkol Dengan Teman, Park Geun Hye Terjungkal

(India.com)

JIKA anda menjadi pejabat, apalagi presiden, berhati-hati lah dengan teman lama, karena persahabatan dan kedekatan bisa menjatuhkan kedudukan seseorang.

Itu lah agaknya yang dialami Presiden wanita pertama Korea Selatan, Park Geun-hye yang dimakzulkan karena terbukti bersekongkol dengan sobat karibnya, Choi Soon-ill merugikan keuangan negara.

Berdasarkan undang di negeri ginseng itu, pemilihan presiden akan digelar 60 hari setelah pemakzulan, sedangkan Geun-hye yang sudah berstatus warga biasa karena hak impunitasnya dilucuti, akan menghadapi peradilan dengan dakwaan penyalahgunaan kekuasaan , terlibat kasus penyuapan dan pemerasan.

Park Geun-hye dimakzulkan oleh parlemen Korea Selatan pada 9 Desember 2016 dan kemudian disyahkan oleh Mahkamah Konstitusi pada  10 Maret lalu setelah terbukti melanggar hukum dengan mengikutsertakan teman karibnya, Choi Soon-sil dalam urusan negara dan melanggar aturan terkait pejabat publik.

Setelah kasusnya terbukti di pengadilan, Presiden Geun-hye tidak berhak lagi menghuni istana Cheong Wa Dai atau Istana Biru dan kehilangan hak impunitasnya sehingga bisa terkena dakwaan tindak kriminal.

Seorang tokoh moderat liberal yang pro rekonsiliasi antara Korea Selatan dan Korea Utara , Moon Jae-in diperkirakan akan mencalonkan diri sebagai pengganti Geun-hye, puteri mantan diktator,  Presiden Park Chung-hee (1961- 1979) yang semula digadang-gadang mampu membawa Korsel lebih makmur dan sejahtera .

Moon menyarankan dilakukannya proses pendekatan bertahap bagi penyatuan  bangsa dan negara Korea yakni pertama melalui penyatuan ekonomi, dilanjutkan dengan penyatuan politik dan militer.

Menurut dia, walaupun berdasarkan  fakta, rezim Korut bertindak lalim dan sewenang wenang terhadap rakyatnya, tidak bisa dipungkiri bahwa Kim Jong Un adalah pemimpin sah Korut yang harus diakui legitimasinya.

 

Penyatuan Korea, penting

Moon menilai, walaupun ia tidak bisa menerima aksi rezi otoriter Korut dengan berbagai tindakan melawan HAM yang dilakukannya, persatuan Korea amat penting bagi bangsa yang terkoyak akibat politik itu.

Moon, seorang pengacara yang belumnya menjadi asisten Presiden Roh Moon-hyun (2003 – 2008) sejauh ini memang dikenal sebagai aktivis HAM dan pendukung penyatuan dengan Korut.

Proses menuju penyatuan Korea, tersendat-sendat saat Korsel berada di bawah Park Geun-hye dan juga pendahulunya, Presiden Lee Myung Bank (2008 – 2013), Bahkan perang kata-kata saling berbalasan antara kedua negara sebangsa itu.

Korsel menuduh Korut mengancam perdamaian di kawasan itu dengan uji coba rudal-rudal balistik yang dilakukannya, sebaliknya Korut menuding Korsel yang secara rutin melakukan latihan perang bersama AS, mengancam keamanannya. Saling kecam memuncak terkait kasus kematian kakak tiri Presiden Korut, Kim Jong Nam di Kuala Lumpur, 13 Maret lalu.

Korsel menuduh, Jong Nam yang tinggal di pengasingan, dihabisi oleh agen rahasia Korut , sebaliknya Korut tidak mengakui bahwa yang mati adalah Jong Nam, dan juga menolak optopsi jenasah yang dilakukan otoritas Malaysia.

Bahkan hubungan Korut dan Malaysia yang sebelumnya tidak bermasalah, menjadi tegang karena Korut menilai Malaysia berkonspirasi dengan Korsel dan musuh-musuh Korut lainnya.

Gelombang unjukrasa dilancarkan di Seoul akhir-akhir ini oleh warga yang tidak puas dengan pemakzulan Geun-hyee yang menuntut agar ia diadili. Pendemo juga menuntut agar loyalis Geun-hye yakni pejabat presiden yang sebelumnya menjabat Perdana Menteri, Hwang Kyo-ahn dilengserkan.

Hati-hati memilih teman. Jangan sampai yang mengunting dalam lipatan!

 

 

 

 

 

Advertisement