
AKSI terorisme yang telah banyak merenggut nyawa korban di berbagai negara di dunia, tidak bisa dilawan sendiri-sendiri, tetapi harus diperangi bersama-sama dengan menggalang kemitraan global.
Kesadaran itu lah yang agaknya mendorong digelarnya KTT Amerika Serikat dan Dunia Islam yang dihadiri lebih 50 kepala pemerintahan dan kepala negara di Riyadh, Arab Saudi, Minggu (21/5).
Presiden RI Joko Widodo, salah satu pemimpin negara berpenduduk mayoritas pemeluk Islam yang hadir di KTT Riyadh menyerukan segera dibentuknya kemitraan untuk melawan gerakan radikalisme dan aksi terorisme.
Alasannya, menurut dia, kekompakan antarnegara berpenduduk mayoritas muslim merupakan modal utama dalam upaya memerangi aksi terorisme dan gerakan radikalisme.
Yang perlu dilakukan terlebih dulu, lanjut Jokowi, adalah membangun pemahaman antarumat Islam sendiri, karena pemahaman yang keliru hanya bisa diluruskan dengan pemikiran yang benar.
Jokowi berpendapat, upaya persuasif dalam perang melawan terorisme dan ardikalisme dengan mengedepankan pendekatan agama dan budaya merupakan prioritas yang harus diambil dan diseimbangkan dengan pendekatan hukum.
Bagi Presiden AS Donald Trump, kehadirannya di KTT Dunia Islam – AS, kemudian dilanjutkan secara marathon dengan KTT AS – Arab Saudi dan KTT AS – negara-negara Arab, sekaligus juga menepis anggapan, ia memusuhi Islam seperti dipersepsikan banyak kalangan sebelumnya.
Hal itu bisa dipahami, karena dalam janji-janji kampanyenya, Trump menyatakan akan lebih fokus mengurusi persoalan dalam negeri, membangun tembok untuk mencegah imigran gelap dari Meksiko dan menutup pintu-pintu masuk bagi pengungsi berasal dari wilayah konflik di Timur Tengah.
Popularitas Trump bagi Arab Saudi dan negara-negara di kawasan Teluk justeru melejit pasca serangan AS ke pangkalan udara Shayrat, Suriah (6/4) yang sebelumnya digunakan oleh pesawat-pesawat tempur rezim Bashar al-Assad menjatuhkan bom kimia yang menewaskan 86 warga sipil di desa Khan Sarkhoun, Propinsi Idlib.
Aksi “cowboy” Trump berikutnya dilakukan AS dengan menjatuhkan bom jumbo atau biang segala bom (mother of all bombs –MOA ) GBU-43B ke kompleks pangkalan dan markas utama pasukan NIIS di Distrik Archin, Provinsi Nangarhar, Afganistan (13/4).
Kedua serangan AS itu yang bisa dianggap sebagai “test the water” untuk menguji respons dunia ternyata ditanggapi positif oleh negara-negara Arab yang menghendaki tindakan lebih keras terhadap setiap aksi-aksi terorisme, kecuali dari Iran dan Rusia yang memang berseberangan dengan AS.
Selain membangun kemitraan global untuk memerangi radikalisme dan terorisme, KTT AS – Dunia Islam seperti yang disampaikan Menlu Arab Saudi Adel al-Jubeir, pertemuan pertama kali yang diinisiasi AS dan negaranya itu juga ditujukan untuk menumbuhkan nilai-nilai toleransi dan prinsip hidup berdampingan secara damai.
Aksi-aksi terorisme nyatanya tidak bisa diatasi sendiri-sendiri, bahkan negara adidaya seperti AS juga menjadi korbannya pada peristiwa 11 September 2001, begitu pula Jerman, Inggeris dan Perancis yang memiliki sistem keamanan canggih.
Kejadian terakhir, aksi bom bunuh diri di tengah konser Ariana Grande di Mancester, Inggeris (22/5) yang menewaskan paling tidak 22 orang dan melukai 50-an korban lainnya.
Di Indonesia, aksi-aksi intimidasi dan penghasutan dengan mengatasnamakan agama, wacana mengubah NKRI menjadi khilafah terinspirasi NIIS dan munculnya bibit-bibit intoleransi di kalangan pelajar dan masyarakat akar rumput, jika terus dibiarkan, bisa-bisa berkembang menjadi bola liar.
Isu terorisme dan radikalisme harus ditanggulangi secara komprehensif dan bersama-sama, melalui pendekatan persuasif dengan melibatkan aspek agama, sosbud, ekonomi dan politik, juga dengan kekuatan jika diperlukan, sebagai upaya terakhir.




