
DUEL ala gladiator atau petarung yang sering dilakukan di zaman kekaisaran Romawi dulu, ditiru empat siswa SMA di kawasan Bogor sehingga berujung tewasnya siswa Kelas 1 SMA Budi Mulya (BM) Hilarius Christian Even Rahardjo alias Hila (15).
Peristiwa perkelahian satu lawan satu di lapangan Palupuh, Bogor, di penghujung Januari lalu itu nyaris tidak terungkap karena pihak keluarga korban dan para pelaku menempuh jalur kekeluargaan untuk berdamai.
Walikota Bogor Bima Arya yang mengaku terlambat mengetahui kejadian itu juga meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas aksi kriminalitas melibatkan remaja yang notabene adalah calon generasi penerus bangsa.
Sejauh ini Polresta Bogor telah menetapkan lima tersangka, ada yang masih berstatus pelajar dan ada lulusan SMA, yakni BV, HK, MS dan TB, sementara seorang tersangka lain, FR masih buron.
Peristiwa maut yang persisnya terjadi Jumat, 29 Januari sekitar pukul 15.00, berdasarkan hasil penyelidikan sementara polisi, Hila dipaksa berduel dengan siswa SMA Mardi Yuwana berinisial AB di Lapangan Palupuh di belakang SMA 7 Tegal Gudil, Bogor Utara.
Berdasarkan keterangan tersangka, TB (21) yang pernah duduk di bangku SMA BM bertindak selaku “pengatur” acara duel maut, sedang tiga tersangka lain yang saat kejadian berstatus siswa SMA Mardi Yuwana memainkan peran berbeda.
Dari hasil rekonstruksi, setelah tidak sadar akibat perkelahian tiak seimbang dengan lawannya (BV) yang bertubuh lebih besar, Hila dilarikan dengan sepeda motor oleh dua tersangka ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.
Ironisnya, prosesi duel ala gladiator antara dua tim basket yang mereka istilahkan sebagai acara “bom-boman” hanya sekedar adu gengsi dan telah berjalan sekitar empat tahun tanpa sepengetahuan pimpinan atau guru di ke dua sekolah.
“Kekerasan yang terjadi cuma adu gengsi, untuk memastikan siapa yang lebih kuat fisiknya sebagai pemain basket. Tidak ada niat sengaja membunuh, tidak ada saling bunuh dan tidak ada taruhan uang, “ tutur pengacara BV Abdi Situmeang.
Kasus tawuran antarsiswa atau antarwarga kampung berujung maut tanpa penyebab atau dipicu hal-hal sepele, juga kekerasan antarsesama siswa di lingkungan sekolah dan institut dengan disiplin militer sudah sering terjadi di negeri ini.
Selama 2017 saja, sebut saja peristiwa tewasnya taruna STIP Amirrulah, siswa SMA Taruna Nusantara Kresna Wahyu, taruna Akpol di Semarang Moh. Adam dan peserta Mapala UII Yogyakarta Syait Asyam.
Aksi tawuran, sangat mengganggu publik jika dilakukan di tempat-tempat umum, apalagi berujung maut, sedangkan semua peristiwa kematian tentu menimbulkan duka, kehilangan dan trauma bagi keluarga korban.
Sikap tanggap dan antisipatif penegak hukum, pihak sekolah, orangtua dan lingkungan dituntut guna mengakhiri aksi-aksi kekerasan, apa pun bentuknya, karena selain kerugian nyawa dan harta-benda, praktek menyimpang itu juga merendahkan Indonesia sebagai negara dan bangsa beradab.




