NIAT Turki mendapatkan sekaligus dua sistem pertahanan udara paling canggih saat ini dari dua sumber berbeda agaknya bakal tidak kesampaian setelah Senat Amerika Serkat akhirnya memutuskan larangan penjualan 100 pesawat tempur generasi kelima F-35 Lightning II setelah negara itu membeli sistem rudal pertahanan udara S-400 dari Rusia.
Menurut siaran Radio Free Europa, Senat AS melalui voting meloloskan RUU larangan penjualan pesawat tempur multi peran berkemampuan siluman “stealth” F-35Lightning II berharga sekitar 100 juta dollar AS (Rp1,34 triliun) per unit tersebut dengan perbandingan suara 85 banding 10.
Harga F-35 yang mampu melaju dalam kecepatan 1,6 Mach (sekitar 2.000 Km per jam) dan disebut-sebut sebagai pesawat tempur tercanggih saat ini memang sangat mahal walau kurang lebih sama dengan harga saingan terdekatnya Sukhoi SU-57 buatan Rusia yang juga memiliki kemampuan setara.
Bayangkan, dibandingkan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon yang juga sudah diproduksi ribuan unit oleh AS dan digunakan banyak negara termasuk TNI-AU harga per unitnya hanya sekitar seperenam (seri C atau D) yakni sekitar 18,8 juta dollar AS (sekitar Rp252 milyar).
F-35 yang dikembangkan oleh AS sejak 2006 merupakan proyek pembuatan pesawat tempur termahal dan diperkirakan hingga akhir proyek tersebut pada 2070, seluruhnya akan menelan biaya sampai 1.508 triliun dollar AS (sekitar Rp20,3 ribu triliun atau sekitar 10 kali APBN Indonesia!)
Berbeda dengan SU-57 yang baru digunakan oleh pembuatnya, Rusia dalam operasi terbatas di koridor udara Suriah beberapa waktu lalu- agaknya untuk menguji keandalannya – F-35 sudah dijual ke sejumlah negara mitra AS seperti Australia, Belanda, Inggeris, Israel, Itali, Jepang dan Norwegia.
AS beralasan, penjualan F-35 pada Turki yang sesama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dibatalkan karena keputusan negara itu untuk membeli sistem rudal pertahanan jarak jauh S-400 “Triumf” (Triumph-bhs Inggeris) buatan Rusia.
Turki sendiri sudah memesan empat baterai S-400 (dijuluki pihak Barat SA21-Growler) dari Rusia bernilai kontrak 2,5 juta dollar AS (sekitar Rp35 triliun). Dari spesifikasi teknis, S-400 dengan kecepatan 4,8 Mach mampu menjangkau sasaran sejauh 300 km pada ketinggian maks. 30 Km dan mampu melacak 80 sasaran berupa pesawat tempur musuh, rudal jelajah atau drone secara simultan.
Selain membeli S-400, Turki juga menawarkan kerjasama untuk mengembangkan sistem rudal pertahanan udara generasi berikutnya yakni S-500 dengan Rusia.
Pembatalan transaksi penjualan F-35, di sisi lain tentunya peluang bagi SU-57, Rafale buatan Dassault, Perancis atau Euro Fighter Typhoon buatan konsorsium Eropa untuk ditawarkan pada Turki.(AP/AFP/Reuters/NS)





