JAKARTA – Tingkat kekerasan semakin tahun semakin meningkat, dan menurut data Komnas Perempuan, kekerasan lebih banyak terjadi di wilayah perkotaan.
Mengacu pada data tersebut, Dr. Bagus Riyono selaku Presiden Internasional Association of Muslim Psycologist, mengatakan kekerasan terhadao perempuan di perkotaan mencapai 39 persen, sementara di pedesaan 29 persen.
Menurut Dr. Bagus Riyono yang akan menjadi salah satu pembicara dalam diskusi “Menghapus Kekersan Terhadap Perempuan” siang nanti, ada empat faktor pemicu dilakukannya kekerasan.
Pertama, kekuatan alam atau lingkungan, misalnya saja lingkungan perkotaan yang padat akan menimbulkan stress, atau bisa juga pergaulan bebas.
Kedua, sistem sosial dan budaya. Dalam hal ini dia mencontohkan kasus kekerasan di Spanyol dimana pelaku pelecehan seksual diadili hukuman ringan hanya karena korban tidak dapat menunjukan bukti adanya kekerasan di fisiknya.
Tidak adanya bukti fisik menunjukan tidak ada perlawanan dari korban, sehingga secara hukum dianggap tidak kuat. Hal ini berlaku di Spanyol, dan kerap menjadi pertentangan warga disana, terlebih korban.
Ketiga yakni kekuatan kelompok atau hubungan interpersonal, misalnya saja di dalam keluarga, bahwa ada interakasi yang kurang terjaga sehingga memicu terjadinya tindakan KDRT.
Sementara yang keempat, dari faktor internal individu, dimana menurut Dr. Bagus, setiap manusia memiliki dorongan kuat mengarah pada perilaku menyimpang, karenanya butuh pertahanan yang kuat untuk tidak melakukannya, misalnya saja dengan cara memperkuat iman dan belajar ilmu agama.




