JAKARTA – Sebaran awan panas akibat erupsi Gunung Lewotobi masih dianggap berbahaya bagi keselamatan penerbangan, sehingga beberapa bandara di Nusa Tenggara Timur belum direkomendasikan untuk beroperasi.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid, menjelaskan di Jakarta pada Jumat bahwa sejak pukul 01.25 WITA hingga siang hari ini, telah terjadi setidaknya empat kali erupsi susulan dengan durasi total mencapai 1.770 detik.
Berdasarkan laporan tim vulkanologi Badan Geologi di Flores Timur, tinggi kolom abu akibat erupsi berkisar antara satu hingga lebih dari lima kilometer di atas puncak Gunung Lewotobi Laki-Laki.
“Kemudian sebaran abunya yang tebal itu mengarah ke utara sampai barat laut. Dan itu menimbulkan penutupan lagi bandara dari Maumere, Ende, Kupang dan sebagainya,” jelas Wafid.
Tim vulkanologi mengindikasikan bahwa penerbangan di wilayah NTT mungkin akan terganggu dalam waktu yang cukup lama, mengingat aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki kini sudah melampaui batas normal (overscale).
Wafid juga menambahkan bahwa peningkatan aktivitas vulkanik ini terlihat dari perubahan jenis letusan dari strombolian menjadi eksplosif sejak Januari hingga Oktober, dengan tremor gempa yang terus terjadi hingga saat ini.
“Nah proses-proses perubahan ini yang menjadi tantangan buat kami untuk memberikan rekomendasi yang lebih detail lagi nanti kepada publik. Sementara ini yang perlu disampaikan,” pungkasnya.





