Amalan Lisan yang Lebih Hebat dari Emas dan Jihad

Ilustrasi zikir. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, KBKNews.id – Apakah bersedekah dengan emas dan perak adalah amalan yang remeh? Tentu tidak. Lalu, bagaimana dengan jihad di jalan Allah, entah itu membunuh musuh atau gugur di medan perang? Itu pun jelas bukan perkara kecil.

Namun, tahukah kita bahwa ada satu amalan yang tampak sederhana, namun memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan bersedekah dengan emas dan perak, bahkan melebihi jihad di jalan Allah?

Rasulullah SAW menyebut amalan ini sebagai yang paling utama, paling suci, dan paling mengangkat derajat seseorang di hadapan Allah. Amalan apakah itu?

”Maukah kuberitahukan kepadamu suatu amalan yang paling baik dan paling suci di sisi Tuhanmu, dan paling menaikan derajatmu, dan lebih baik bagimu daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagimu daripada berjuang melawan musuh, kamu membunuh musuh atau musuh membunuhmu.”

Para sahabat menjawab “Ya.”

Sabda Rasulullah, “Zikrullah.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Betapa mulianya zikir, yaitu aktivitas hati dan lisan dalam mengingat Allah. Bahkan ketika seseorang bersedekah dengan emas dan perak, ada kemungkinan niatnya ternodai oleh keinginan dipuji sebagai orang dermawan, sehingga pahala sedekahnya hilang.

Begitu pula jihad, meskipun mempertaruhkan nyawa, bila niatnya bergeser agar disebut pemberani, maka amal tersebut bisa jadi sia-sia.

Sebaliknya, zikir sangat bernilai karena dilakukan dengan hati yang ikhlas, tanpa pamrih, cukup dengan lisan dan suara pelan. Orang yang berzikir hanya mengharap rida Allah dan ketenangan jiwa.

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan Bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS Ali Imran-191)

Mreka yang lalai dari berdzikir, apalagi saat duduk atau berbaring, termasuk golongan yang merugi. Padahal, zikir adalah amalan sederhana yang tidak membutuhkan biaya, tenaga, atau waktu khusus. Jika amalan semudah ini saja tidak dilakukan, bukankah itu kerugian besar?

“Barangsiapa duduk di suatu tempat, lalu tidak berzikir kepada Allah di dalamnya, pastilah dia mendapatkan kerugian dari Allah, dan barangsiapa yang berbaring dalam suatu tempat lalu tidak berzikir kepada Allah, pastilah mendapatkan kerugian dari Allah.” (HR Abu Daud)

Bahkan, perbedaan antara orang yang suka berzikir dan yang lalai diibaratkan seperti perbedaan antara orang hidup dan orang mati.

“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir, adalah seumpama orang yang hidup dan mati.” (HR Bukhari)

Yang menarik, berbeda dengan amalan lain yang menekankan kualitas, zikir justru dianjurkan untuk dilakukan sebanyak-banyaknya.

“Hai orang-orang yang beriman berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah di waktu pagi dan petang.” (QS Al Ahzab: 41-42)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here