
GUBERNUR Jawa Barat Dedi Mulyadi mengingatkan, ancaman gempa di jalur Sesar Lembang sudah di depan mata sehingga meminta warga d sekitar patahan bersedia direlokasi sebelum bencana benar-benar tiba.
Sesar aktif termasuk yang di Lembang adalah patahan atau retakan di kerak bumi, menunjukkan adanya gerakan atau aktivitas yang berpotesi memicu gempa.
Sesar Lembang adalah patahan ektif tipe strike-slip atau pergeseran mendatar pada 10 km di utara kota Bandung, membentang 25 km sampai 29 km dari wilayah Padalarang hingga Jatinangor. Sesar ini menyimpan potensi gempa.
Dedi mengatakan, pihaknya tentu banyak menyiapkan lahan relokasi, tapi yang penting, mnurut dia, warga harus mau dari sekarang bersiap-siap untuk relokasi.
“Pertanyaannya, warga mau nggak dipindahin (direlokasi-red) sebelum terjadi bencana?. Kan biasanya nggak mau, nunggu bencana (tiba-red),” kata Dedi dikutip Tibune Jabar, Sabtu (23/8).
Selain simulasi dan relokasi, ia juga menegaskan perlunya upaya pencegahan lain berupa larangan pembangunan di Kawasan Bandung Utara (KBU) yang rawan bencana.
Menurut dia, pemprov Jabar mulai November sudah mulai menanam pohon, sambil mengingatkan dan mencabut sejumlah izin (pemanfaatan lahan-red).
“Nggak boleh lagi, daerah bahaya nih. Saya tegaskan sekali lagi, kepada pemkab Bandung, Kota Bandung dan Bandung Barat untuk tidak lagi mengeluarkan izin di kawasan yang berpotensi bencana di sesar Lembang,” ucapnya.
Zaman Kuarter
Sesar Lembang terbentuk di Zaman Kuarter atau Pleistosen sekitar 500.000 tahun yang lalu. Proses pembentukannya berkaitan dengan runtuhnya Kompleks Gunung Api Sunda-Burangrang yang memicu terbentuknya struktur sesar turun, lalu berkembang menjadi sesar mendatar aktif.
Catatan geologi menunjukkan, gempa besar pernah terjadi, salah satunya sekitar 2.000 tahun lalu dengan magnitudo 6,8 yang menyebabkan bagian utara sesar turun sekitar 1,7 meter.
Sekitar 500 tahun kemudian, gempa susulan membuat penurunan tambahan sekitar 0,5 hingga 1 meter.
Pergeseran Sesar Lembang terjadi dengan kecepatan antara 0,2 hingga 3,45 milimeter per tahun. Para ahli memperkirakan, potensi gempa besar di kawasan ini dapat mencapai magnitudo 6,5 hingga 7,0, dengan periode pengulangan sekitar 170 hingga 670 tahun. Rekaman geologi memperkirakan gempa besar terakhir terjadi pada abad ke-17.
Beberapa gempa kecil pernah tercatat di sekitar Sesar Lembang dalam era modern, di antaranya:
- 28 Agustus 2011: Gempa magnitudo 3,3 dengan kedalaman dangkal merusak 384 rumah di Kampung Muril, Jambudipa, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
- 14 dan 18 Mei 2017: Gempa magnitudo 2,8 dan 2,9 terjadi di wilayah sekitar tanpa kerusakan berarti.
- 20 Agustus 2025: Gempa magnitudo 1,7 dengan kedalaman 10 kilometer terjadi di zona sesar, disertai peningkatan aktivitas seismik ringan dalam beberapa bulan terakhir.
Pemantauan dan mitigasi
Pemantauan aktivitas Sesar Lembang telah dilakukan sejak 1963 melalui pemasangan seismograf. Upaya mitigasi juga meliputi pemetaan zona rawan, edukasi publik, dan pembangunan rumah tahan gempa agar dampak bencana dapat diminimalisasi.
Selain itu, pemerintah menetapkan jarak aman dari garis sesar sekitar 100-150 meter sesuai standar internasional. Beberapa desa di sepanjang jalur sesar pun mulai menerapkan sistem deteksi dini dan menyiapkan jalur evakuasi sebagai langkah antisipasi.
Sesar Lembang adalah ancaman nyata bagi wilayah Bandung Raya karena potensi gempa besar yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Meskipun pergeserannya berlangsung lambat, akumulasi energi di zona sesar dapat memicu gempa yang berdampak luas.
Waspada! lakukan mitigasi dan tindakan antisipasi dan warga harus rela direlokasi ke tempat aman.




