BREBES – Pertanyaan tersebut yang akan ada dipikiran semua orang yang mendengar kisah Lanang, 20 tahun, seorang pelajar yang ingin bekerja menjadi tukang sapu di sekitar Pasar Induk Kabupaten Brebes, tetapi harus membayar uang masuk kerja sebesar 10 juta.
Lanang yang berharap bisa menggantikan posisi ayahnya yang baru saja meninggal sebulan lalu, merasa resah ketika diberitahu petugas kebersihan yang juga bekerja di Pasar Induk Brebes. Dikatakan temannya Lanang harus menyerahkan sejumlah uang kepada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Induk Brebes.
Tribun Jateng yang menemui Lanang di kompleks Kantor Bupati, Kamis (28/4/2016)mengutip keresahannya, “Memang saya dapat informasi dari teman sesama petugas kebersihan, kalau saya harus membayar sejumlah uang yang nantinya akan diserahkan kepada oknum UPT Pasar sebesar Rp 10 juta. Uang itu katanya sebagai syarat agar saya bisa menjadi tukang sapu di UPT Pasar Induk Brebes,” ujar Lanang yang masih duduk di bangku kelas XII SMA di Brebes ini.
Selain petugas kebersihan, pernyataan serupa juga sempat didengarnya dari oknum petugas UPT Pasar Induk Brebes yang juga sempat menyinggungnya.
Tetapi saat bertemu dengan bendahara Dinas Perdagangan dan Perindustrian, kata Lanang, besaran pungutan liar yang awalnya sebesar Rp 10 juta diturunkan menjadi Rp 2,5 juta.
“Kemarin saya diminta menghadap ke bendahara Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Di sana saya diberitahu soal pungutan liar itu, katanya mau dipinjami dulu tapi nanti pembayarannya dipotong gaji bulanan,” sambungnya.
Meskipun pungutan liar tersebut sudah diturunkan jumlahnya, Lanang belum mengiyakan mengenai pembayaran tersebut. Titik terang pun akhirnya didapatinya saat ia memberanikan diri menghadap Bupati Brebes Idza Priyanti agar keresahannya terobati.
Ditemani aktivis sosial Aris S, Lanang diterima dengan baik dan mendapat solusinya untuk bisa menjadi tukang sapu di Pasar Induk Brebes menggantikan almarhum ayahnya tanpa iming-iming uang masuk.
“Alhamdullilah bupati langsung mersepon, dengan mendengarkan keluhan saya. Ibu bupati juga langsung memberikan rekomendasi agar saya bisa jadi tukang sapu setelah saya lulus sebentar lagi,” tutup Lanang yang kini harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Semoga tidak ada Lanang-Lanang lainnya, berniat mencari uang tetapi harus keluar uang!




