HARI ke-34 konflik Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel, Kamis (2/4), dinamika perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga retorika yang dikobarkan kedua kubu serta dinamika yang terjadi ranah opini publik internasional.
Survei terbaru National Iranian American Council (NIAC) menunjukkan mayoritas warga keturunan Iran di Amerika Serikat menolak perang terhadap Iran.
Lebih dari 66 persen responden menentang perang, sementara sekitar 32,7 persen mendukung. Hasil ini menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan survei di awal konflik dengan hasil opini relatif seimbang.
NIAC menyebut keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta dampak korban sipil menjadi faktor utama perubahan sikap tersebut.
“Korban jiwa dan luka-luka warga sipil serta ketidakstabilan negara menjadi alasan utama penolakan,” demikian pernyataan NIAC. Sementara aksi demo massa anti perang digelar di sejumlah kotadi AS, Rabu (1/4) dilaporkan diikuti delapan jutaan peserta.
Di sisi lain, pemerintah Iran menegaskan, hingga saat ini tidak ada negosiasi resmi dengan AS meskipun komunikasi melalui perantara tetap berlangsung.
Jubir Kemlu Iran menyebut Teheran memang menerima pesan melalui pihak ketiga, namun hal itu tidak dapat diartikan sebagai proses negosiasi.
Pernyataan ini sejalan dengan penegasan Menlu Iran Abbas Araqchi yang sebelumnya menyebut pertukaran pesan dengan utusan khusus AS, termasuk Steve Witkoff, hanya sebatas komunikasi, bukan perundingan.
Lebih lanjut, laporan dari Tasnim News Agency menyebut Iran siap menghadapi perang dalam jangka panjang, bahkan hingga enam bulan ke depan.
Araqchi menegaskan bahwa Iran tidak menetapkan batas waktu dalam mempertahankan diri dan akan terus melanjutkan perlawanan selama diperlukan.
Mematangkan serangan darat
Sementara itu, AS dilaporkan sedang mematangkan persiapan untuk melancarkan serangan darat ke Iran, menargetkan Pulau Kharg, fasilitas ekspor minyak utama Iran di Teluk.
Bahkan, Presiden AS Donald Trump yakin dapat merebut pulau itu dengan sangat mudah.
“Saya rasa mereka tidak memiliki pertahanan apa pun. Kita bisa merebutnya dengan sangat mudah,” kata Trump seperti dilaporkan AFP, Senin (30/3) lalu.
Dengan dua hingga tiga pekan tenggat waktu perang yang telah ditetapkannya, tanda-tanda AS rencanakan serangan darat ke Iran pun kian nyata.
AS yang diperkirakan memiliki 50.000 personel militer di sejumlah negara di Tmur Tengah, sudah menyiapkan kontingen tambahan ratusan satuan khusus US Navy Seal, Rangers, 3.000-an personil satuan Lintas Udara AD ke-82 dan 5.000-an personil marinir yang berada di atas kapal serang amfibi USS Tripoli dan USS Boxer.
Kapal induk ketiga, USS George Bush juga sudah berada di perairan Timur Tengah, memperkuat dua kapal induk yang sudah berada di sana sebelumnya yakni USS Abraham Lincol dan USS Gerald Ford.
Pekan lalu, laporan menunjukkan bahwa Pentagon sedang mempertimbangkan pengerahan 10.000 pasukan darat tambahan ke Timur Tengah.
Iran walau tanpa dukungan AD dan AU yang dilaporkan telah dilumpuhkan oleh supremasi kekuatan udara dan laut koalisi AS dn Israel, masih memiliki sekitar satu juta personil militer terdiri dari tentara reguler, Satuan Garda Revolusi Iran (IRGC) yang juga membawahi pasukan khsus al-Quds dan milisi khusus Basij.
Selain stok rudal balistik, sebagian berkemampuan jelajah, berkecepatan hipersonik dan multi hulu ledak (clusters) yang cukup banyak, pasukan daratnya yang terlindung baik, diperkirakan bakal memberikan pelawanan sengit terhadap pasukan AS.
Operasi darat AS sendiri jika jadi dilancarkan, agaknya berupa operasi amfibi dimotori dua kapal serang amfibi USS Tripoli dan USS Boxer yang membawa puluhan pesawat tempur siluman Lightning F-35B, tank dan artileri serta 5.000-an marinir, sementara satuan elite Navy Seal dan Rangers, beroperasi di garis belakang lawan, dan Satuan Lintas Udara ke-82 diterjukan dengan parasut ke wilayah-wilayah tertentu guna memotong pasokan logistik atau menyekat posisi lawan.
Yang jelas, jika operasi serangan darat dilakukan, meningkatnya korban manusia bakal sulit dihindari. (AFP/Newsweek/Tasnim News Agency/ns)





