
PASUKAN Garda Revolusi Iran (IRGC) terus meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone terbarunya, menyasar posisi-posisi militer dan fasilitas Amerika Serikat di Timur Tengah dan ke wilayah Israel.
Analisis menyebutkan, serangan rudal Iran berhasil menimbulkan kerusakan pada beberapa pangkalan militer AS di kawasan Teluk, dan laporan awal mengungkapkan, kerusakan bernilai ratusan juta dolar AS selama pekan-pekan awal konflik.
Koalisi AS-Israel berupaya mencegat rudal-rudal Iran, namun intensitas balasan Iran tetap tinggi dengan menyasar beberapa negara mitra AS seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania dan juga tetangganya, Irak.
Terdapat spekulasi mengenai rencana serangan darat oleh pasukan koalisi yang dipimpin AS, meningkatkan ketegangan di kawasan.
Hal itu tercermin dari ultimatum Presiden Trump yang menyebutkan deadline untuk membuka Selat Hormuz habis waktunya, Selasa (7/4) pukul 20.00 Eastern time atau Rabu (8/4) pukul 07:00 WIB.
Juga dari penyiapan ratusan satuan khusus US Navy SEAL, Rangers, 2.000-an personil Divisi Lntas Udara ke-82 AD AS dan 5.000-an marinir, menambah sekitar 50.000 personil militer AS yang sudah ada di belasan pangkalan di
Timteng.
Ciptakan instabilitas keamanan global
Konflik Iran vs koalisi AS-Israel juga menyebabkan instablilitas situasi keamanan di Timur Tengah dan melibatkan ketegangan di jalur pelayaran kapal tanker pengangkut minyak di Selat Hormuz
Serangan terbaru koalisi AS-Israel kembali mengguncang Teheran, Selasa dini hari (7/4), di mana sejumlah ledakan terdengar dari Bandara Int’l Mehrabad, Teheran.
Serangan ini menambah daftar panjang sasaran strategis dan sipil yang dihantam di tengah eskalasi konflik yang memperparah situasi kemanan di ibu kota Iran tersebut.
Selain di medan pertempuran nyata, retorika perang juga terus dikobarkan oleh kubu kedua pihak yang bertikai.
Presiden AS Donald Trump mengatakan memiliki rencana untuk meratakan Iran termasuk seluruh situs sipilnya menjelang ultimatum pembukaan Selat Hormuz.
Trump sesumbar bakal meluluhlantakkan Iran hanya dalam empat jam dan seperti dilansir Al Jazeera, Selasa (7/4), Trump menyebut AS akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik Iran.
Sebaliknya, Iran menunjukkan sikap tegas dengan menolak membuka kembali Selat Hormuz meski tenggat waktu dari ultimatum Presiden AS Trump semakin dekat di hari Selasa, 7 April 2026.
Militer Iran menilai pernyataan Trump sebagai ancaman tanpa dasar dan menyebutnya hanya arogansi retorika. Para petingi Iran menegaskan, operasi militer terhadap AS dan Israel akan terus berlanjut.
Belum diketahui ending perang ini, yang jelas merupakan tragedi kemanusiaan ditandai dari jumlah korban berjatuhan, belum lagi mengakibatkan terganggunya perekonomian global. (CNNI/berbagai sumber/ns)




