NILAI tukar rupiah di pasar spot melemah pada penutupan perdagangan Selasa (7/4), turun 0,42 persen ke level Rp 17.105 per dollar AS.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi seperti dilansir kompas.com (7/4) menilai tekanan terjadi gegara eskalasi konflik di Timur Tengah yang belum ada tand-tanda akan berhenti.
Tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump kepada Iran terkait pembukan blokade Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar.
Trump memberikan tenggat waktu sampai Selasa (7/4) pukul 20:00 Eastern time atau Rabu pagi (8/4) pukul 07:00.
Menurut Ibrahim, gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir memperketat ekspektasi pasokan energi global.
“Risiko di pasar minyak ikut meningkat. “Investor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, “ ujarnya.
Menurut Ibrahim, gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak.
Sejauh ini upaya diplomatik belum menunjukkan hasil karena Iran menolak proposal yang didukung Amerika Serikat.
Usulan tersebut mencakup gencatan senjata selama 45 hari dan pembukaan Selat Hormuz secara bertahap. Iran mengajukan syarat berbeda.
Tuntutan meliputi penghentian konflik permanen, jaminan keamanan yang mengikat, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan.
Deadline final
Sementara itu, Donald Trump menegaskan tenggat waktu bersifat final. Ia memperingatkan kegagalan Iran dapat memicu serangan militer terhadap infrastruktur strategis.
Situasi ini mengganggu aliran energi global. Harga minyak dunia melonjak. Risiko inflasi meningkat dan arah kebijakan moneter global menjadi lebih kompleks.
Investor menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat pada Jumat. Data tersebut menjadi indikator penting bagi arah suku bunga bank sentral AS.
Tekanan eksternal ikut memengaruhi kondisi perekonomian di dalam negeri. Tantangan fiskal meningkat seiring kenaikan harga energi global.
Pemerintah sendiri baru menegaskan, tidak ada kenaikan BBM bersubsidi (Petrlaite dan Bio Solar) sampai Desember 2026, dengan asumsi lonjakan harga minyak global masih di bawah 100 dollar AS per hari.
APBN 2026 sendiri dipatok dengan harg minyak 70 dollar AS per barrel, sehingga setiap kenaikan harga minyak global satu dollar AS, akan membebani Rp6,8 triliun.
Bagi pemerintah, menaikkan atau tidak harga BBM bagai menghadapi buah si malakama, karena jika tidak dinaikkan, akan membebani APBN, sebaliknya jika dinaikkan, bakal menekan daya beli publik dan memicu inflasi. (Kompas.com/ns)





