
ISTANBUL – Iran memberi sinyal kemungkinan untuk berunding dengan Amerika Serikat (AS) mengenai program nuklirnya, namun hanya jika pembicaraan difokuskan pada kekhawatiran terkait potensi militerisasi program tersebut.
“Jika tujuan negosiasi adalah membahas kekhawatiran terkait potensi militerisasi program nuklir Iran, maka pembicaraan semacam itu dapat dipertimbangkan,” demikian pernyataan misi Iran di PBB, yang diunggah di platform X, Minggu (9/3/2025).
Namun, Iran menegaskan bahwa pihaknya menolak setiap bentuk perundingan yang bertujuan untuk membatasi aktivitas nuklirnya secara lebih luas.
“Jika tujuannya adalah untuk membongkar program nuklir damai Iran… maka negosiasi semacam itu tidak akan pernah terjadi,” sebut pernyataan tersebut.
Pernyataan ini muncul setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu, menolak upaya AS untuk membawa Iran kembali ke meja perundingan. Khamenei menuduh Washington mengajukan tuntutan yang tidak dapat diterima.
“Mereka mengajukan tuntutan baru yang jelas tidak akan diterima Iran, seperti soal kemampuan pertahanan, jangkauan rudal, dan pengaruh internasional kami,” kata Khamenei, seperti dikutip media pemerintah.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan Fox Business Network pada Jumat kembali menegaskan keinginannya untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran. Ia juga memastikan telah mengirim surat yang mengusulkan pembicaraan dengan Teheran.
Pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan kembali menerapkan kampanye “tekanan maksimum” yang pernah diterapkan pada periode pertamanya. Langkah ini bertujuan membatasi ekspor minyak Iran dan mengurangi pengaruhnya di dunia.
Sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 pada 2018 dan kembali menerapkan sanksi, Iran secara signifikan meningkatkan tingkat pengayaan uraniumnya, melebihi batas yang ditetapkan dalam kesepakatan tersebut.
Direktur Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, memperingatkan bahwa upaya diplomatik semakin kehabisan waktu karena Iran semakin mendekati tingkat pengayaan uranium yang dapat digunakan untuk senjata nuklir.




