Israel Gunakan Kelaparan sebagai Senjata, PBB Serukan Tindakan Internasional untuk Gaza

JENEWA – Pakar PBB mengeluarkan peringatan terkait keputusan Israel yang menghentikan seluruh bantuan kemanusiaan ke Gaza. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bentuk “penggunaan kelaparan sebagai senjata”.

Peringatan ini muncul setelah Kabinet Perang Israel membatalkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza dan sejumlah pejabat tinggi menyerukan kembali eskalasi konflik di wilayah tersebut.

“Dengan sengaja memotong pasokan vital, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan seksual dan reproduksi, dan alat bantu bagi penyandang disabilitas, Israel sekali lagi menjadikan bantuan sebagai senjata,” kata mereka, Kamis (6/3/2025)

Mereka menegaskan bahwa tindakan ini merupakan pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional, serta bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan berdasarkan Statuta Roma.

Sebagai kekuatan pendudukan, Israel memiliki kewajiban untuk menjamin kecukupan makanan, pasokan medis, dan layanan kemanusiaan lainnya bagi warga Palestina.

Namun, para pakar menyoroti bahwa gencatan senjata tidak serta-merta menghentikan serangan terhadap rakyat Palestina.

Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 19 Januari, pasukan Israel telah menewaskan setidaknya 100 warga Palestina di Gaza, sehingga total korban jiwa mencapai 48.400 orang.

“Dengan melanjutkan pengepungan dan pemboman di Gaza, Israel telah mengubah secara sepihak ketentuan perjanjian gencatan senjata dan langkah selanjutnya,” kata para pakar tersebut.

Mereka mendesak mediator gencatan senjata, yaitu Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat, untuk segera bertindak guna memastikan perjanjian tetap berjalan sesuai hukum internasional.

“Kami mendesak negara-negara di seluruh dunia untuk mengingat kewajiban mereka sendiri berdasarkan hukum internasional dan bertindak untuk mengakhiri serangan brutal dan tak berujung ini terhadap rakyat Palestina dan hak-hak mereka, agar seluruh dunia tidak terseret dalam badai pelanggaran hukum dan ketidakadilan ini,” tegas mereka.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Israel dari kelompok sayap kanan, Bezalel Smotrich, pada Minggu (2/3/2025), menyerukan “pembukaan gerbang neraka” di Jalur Gaza setelah pemerintah Israel memutuskan untuk menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah yang masih dikepung tersebut.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here