
DI TAIWAN makin banyak kaum milenial yang terjun ke sektor pertanian, mengingat selain mereka ingin tinggal di pedesaan yang lestari dan nyaman, berbagai fasilitas dan kemudahan juga disiapkan pemerintah.
Direktur Taipei Economics and Trade Ofice (TETO) Jakarta, William W.L HSU di Jakarta, Selasa (22/7) menyebutkan, saat ini ada sekitar lima ratus ribuan dari 23,4 juta penduduk Taiwan yang mencari nafkah di sektor pertanian.
“Profesi petani kini boleh dibilang menjadi tren bagi anak muda Taiwan yang bosan atau merasa stress tinggal di kota kota besar, sehingga memilih hidup di pedesaan yang lebih tenteram sebagai petani.
Baik pemerintah pusat mau pun daerah, menurut HSU, memberikan ragam fasilitas dan kemudahan usaha pertanian, misalnya menyediakan kredit usaha tani termasuk misalnya untuk sewa lahan, berbunga rendah (dua persen).
Pemerintah juga memberikan subsidi sarana produksi tani seperti traktor, mesin penebar benih, pemanen, pemroses hasil panen, pupuk, juga pemanfaatan lahan pertanian.
Petani dilindungi dari gagal panen misalnya akibat hama dan penyakit tanaman atau cuaca dengan asuransi hasil panen, begitu pula dengan pemasaran hasil panen, dibantu pemerintah.
Tak hanya petaninya, lanjut HSU, kegiatan lain terkait pertanian, mulai dari penjualan hasil pertanian (kios sayuran) , toko alat alat dan sarana produksi pertanian juga diberikan kemudahan usaha.
Peran Asosias Pertanian Taiwan
Sementara Asosiasi Pertanian Taiwan (TFA) selain berfungsi membantu meningkatkan produksi petani, ikut memasarkan produksi petani, juga meningkatkan teknologi serta efisiensi pertanian seperti penyediaan pupuk, bibit dan pakan ternak dan penanggulangan hama.
TFA menyalurkan layanan keuangan termasuk tabungan, pinjaman dan asuransi dan mendapatkan pinjaman modal serta perbaikan taraf hidup petani.
Tak hanya itu TFA juga mengelola jaminan kesehatan petani dan perlindungan lansia, mendukung pembangunan prasarana umum di pedesaan serta membantu pemerintah melaksanakan kebijakan pertanian.
“Sinergi antara TFA, pemerintah, perbankan, dunia usaha dan perguruan tinggi (untuk penelitian, misalnya mendapatkan bibit unggul yang produktivitasnya tinggi-red) dan industri (pengembangan mesin mesin pertanian-red) terjalin dengan baik, ujar HSU.
Hasilnya, walau pun jumlah petani relatif sedikit dibandingkan jumlah total penduduknya, Taiwan saat ini sudah mencapai swasembada berbagai komoditi pertanian.
Peluang Kerjasama
HSU pada bagian lain juga melihat peluang kerjasama pengembangan koperasi desa khususnya di bidang pertanian yang dicanangkan pemerintah Presiden Prabowo Subianto.
Presiden Prabowo dari Klaten, Jawa Tengah (21/7) meresmikan secara paralel peluncuran kelembagaan 80.000 Koperasi Desa tersebar di seluruh Indonesia sebagai tonggak baru ekonomi rakyat berbasis gotong royong.
Sebagai salah satu negara tersukses di level global dalam pengembangan koperasi selain Jepang dan Korea Selatan, SHU melihat sejumlah peluang kerjasama antara Taiwan dan Indonesia dalam pengembangan koperasi khususnya di sektor pertanian.
Di bidang permodalan misalnya, menurut HSU, dana berlimpah milik Taiwan, termasuk yang parkir di Hong Kong atau Singapura bisa dimanfaatkan untuk ditanam di Indonesia, khususnya di sektor koperasi usaha pertanian.
Untuk meningkatkan wawasan SDM terkait manajemen Koperasi dan kegiatan pertanian, HSU melihat peluang kunjungan atau magang bagi staf koperasi di berbagai koperasi dan sentra produksi pertanian di Taiwan.
Kerjasama riset atau penelitian misalnya untuk mendapatkan varietas unggul tanaman atau ternak yang tahan terhadap jenis penyakit tertentu atau penanganan pasca panen, juga perlu dijajagi antara Taiwan dan Indonesia.
Taiwan aktif membantu pengembangan pertanian Thailand dan Vietnam mencakup berbagai aspek, mulai dari transfer teknologi hingga pendanaan proyek.
TaiwanICDF, sebuah lembaga bantuan luar negeri Taiwan, telah lama terlibat dalam proyek pertanian di Vietnam sejak tahun 1959, dan hubungan kerjasama ini terus berlanjut hingga kini.
Taiwan, meskipun memiliki lahan subur yang terbatas dan tantangan iklim, telah mengembangkan sistem pertanian yang sangat efisien dan berteknologi maju.
Bantuan ini dapat berupa hibah atau pinjaman lunak untuk mendukung pengembangan infrastruktur pertanian, penelitian dan pengembangan, serta pelatihan petani.
Kerjasama Teknis:
Taiwan mengirimkan ahli pertanian dan teknisi ke Thailand dan Vietnam untuk memberikan pelatihan dan bimbingan teknis kepada petani dan pemangku kepentingan lainnya.
Kerjasama mencakup berbagai bidang, seperti budidaya tanaman, manajemen hama dan penyakit, serta penggunaan teknologi pertanian modern.
Peningkatan Kualitas Produk:
Taiwan membantu Thailand dan Vietnam dalam meningkatkan kualitas produk pertanian mereka, sehingga dapat bersaing di pasar internasional. Ini mencakup penerapan standar kualitas yang lebih tinggi, serta pengembangan produk pertanian bernilai tambah.
Pengembangan sektor agribisnis di Thailand dan Vietnam, termasuk pemasaran produk pertanian, rantai pasok, dan diversifikasi produk juga jadi agenda bantuan Taiwan.
Sektor pertanian di Indonesia yang digeluti sekitar 23,2 juta rumah tangga, ke depannya tentu tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi dimarjinalisasikan.
Koperasi Desa yang pengurusnya amanah, jujur, bebas korupsi serta inovatif jadi salah satu harapan penggerak ekonomi Indonesia ke depan.




