WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan kemungkinan mempertimbangkan kembali keanggotaan AS di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Dalam acara di Las Vegas, Sabtu (25/1/2025), Trump menjelaskan bahwa AS sebelumnya keluar dari WHO karena merasa tidak diperlakukan adil.
AS, kata dia, membayar 500 juta dolar AS (sekitar Rp8 triliun) setiap tahun, sementara China, dengan populasi yang jauh lebih besar, hanya membayar 39 juta dolar AS.
“Tetapi, mungkin kami akan mempertimbangkan kembali (bergabung dengan WHO),” kata Trump.
Setelah dilantik untuk masa jabatan keduanya sebagai Presiden AS pada Senin lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang resmi menarik AS dari WHO.
“Organisasi Kesehatan Dunia mengeksploitasi kami. Semua pihak memanfaatkan Amerika Serikat, dan itu tak akan terjadi lagi,” kata Trump kepada wartawan usai mengeluarkan perintah itu.
“Bagi saya, rasanya itu tidak adil, meski bukan itu alasan utama saya keluar. China membayar 39 juta dolar AS, dan kami membayar 500 juta dolar AS. Padahal, China negara yang lebih besar,” lanjut Trump.
Mengenai hubungan dengan Arab Saudi, Trump menyebut dirinya akan meminta negara tersebut untuk meningkatkan investasi dan kerja sama perdagangan dengan AS.
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, sebelumnya menyatakan bahwa kerajaan itu berencana meningkatkan investasi hingga 600 miliar dolar AS (sekitar Rp9.700 triliun) dalam empat tahun ke depan.
Trump optimistis Arab Saudi dapat meningkatkan jumlah tersebut hingga 1 triliun dolar AS.
“Apa artinya uang sebanyak itu (bagi Arab Saudi)? Tidak ada. Anda tahu dari mana mereka mendapat uangnya, bukan? Dari emas cair. Mereka punya banyak emas cair,” katanya, merujuk pada minyak bumi.
Selama masa jabatan pertamanya (2017-2021), Trump menjadikan Arab Saudi sebagai tujuan kunjungan luar negeri pertamanya, yang menunjukkan eratnya hubungan bilateral antara kedua negara.
Setelah pelantikan terbarunya, ia menyatakan akan mengulang lawatan itu jika Arab Saudi bersedia membeli produk-produk AS senilai hingga 500 miliar dolar AS.





