Marbot Masjid, Penjaga Rumah Allah yang Sering Terlupakan

Marbot merupakan orang yang diberi amanah untuk mengurus masjid. (Foto: masjid nusantara)

Jakarta, KBKNews.id – Masjid bukan hanya bangunan tempat umat Muslim menunaikan salat. Ia merupakan pusat ibadah, pendidikan, hingga aktivitas sosial masyarakat.

Namun, kenyamanan dan keteraturan masjid tidak hadir dengan sendirinya. Di balik lantai yang bersih, karpet yang rapi, dan azan yang selalu tepat waktu, ada sosok yang kerap luput dari perhatian, marbot masjid.

Marbot sering bekerja dalam senyap, memastikan rumah ibadah selalu siap menyambut jemaah kapan pun pintunya dibuka.

Apa Itu Marbot?

Secara bahasa, kata marbot berasal dari bahasa Arab marbūṭ yang berakar dari kata thabara, berarti “mengikat”. Makna ini menggambarkan posisi marbot sebagai sosok yang terikat dengan masjid, baik secara tugas, waktu, maupun pengabdian.

Dalam praktiknya, marbot merupakan orang yang diberi amanah untuk mengurus, menjaga, dan merawat masjid di bawah koordinasi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Di beberapa daerah, marbot juga dikenal dengan sebutan kaum, terutama di surau atau langgar.

Tugas Marbot Masjid

Pekerjaan marbot tidak sekadar menyapu atau mengepel lantai. Tugasnya cukup luas dan menyentuh banyak aspek kehidupan masjid. Secara umum, berikut peran penting seorang marbot:

  • Menjaga kebersihan masjid, mulai dari ruang utama salat, tempat wudu, toilet, halaman, hingga lingkungan sekitar masjid.
  • Merawat sarana dan prasarana, seperti karpet, mimbar, pengeras suara, lampu, dan fasilitas pendukung lainnya.
  • Mendukung kegiatan ibadah, termasuk mengumandangkan azan, ikamah, serta menjadi imam cadangan jika imam tetap berhalangan.
  • Membantu kelancaran kegiatan masjid, seperti pengajian, peringatan hari besar Islam, hingga kegiatan sosial masyarakat.
  • Melayani jemaah, memberi informasi, membantu kebutuhan jemaah, dan menciptakan suasana masjid yang ramah serta nyaman.

Dalam keseharian, marbot sering menjadi orang pertama yang datang dan terakhir meninggalkan masjid.

Marbot sebagai Profesi

Meski sering dipandang sebagai pengabdian sosial, marbot pada dasarnya juga merupakan sebuah profesi. Jasa mereka dihargai melalui gaji yang bersumber dari kas masjid, kotak amal harian, atau infak Jumat.

Selain gaji rutin, marbot juga kerap menerima santunan tambahan. Misalnya saat masyarakat menggelar walimah seperti khitanan atau pernikahan, serta menjelang Idul Fitri dan Idul Adha. Bentuk penghargaan ini menjadi bagian dari budaya gotong royong antara masjid dan jemaahnya.

Tempat Tinggal Marbot

Dalam banyak kasus, marbot menetap di area masjid. Biasanya tersedia ruangan khusus yang diperuntukkan bagi mereka agar mudah menjalankan tugas harian, terutama untuk membuka dan menutup masjid, menjaga kebersihan, serta mempersiapkan ibadah lima waktu.

Sementara itu, marbot di surau atau langgar umumnya tinggal di sekitar lokasi tempat ibadah agar tetap dekat dan mudah dihubungi.

Siapa yang Bisa Menjadi Marbot?

Tidak ada aturan tertulis yang mengikat mengenai profesi marbot. Namun, secara umum masyarakat memiliki kesepahaman tidak tertulis tentang kriteria marbot, antara lain:

  • Laki-laki dewasa
  • Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
  • Bersedia menetap atau selalu dekat dengan masjid
  • Memahami dasar-dasar ibadah

Karena sifat pekerjaannya yang melekat dengan aktivitas ibadah, marbot sering kali dipandang sebagai figur yang patut diteladani dalam sikap dan keseharian.

Peran Penting yang Sering Terlupakan

Peran marbot sangat besar dalam menciptakan kenyamanan masjid. Hubungan yang baik antara marbot dan jemaah dapat menghadirkan suasana masjid yang hangat dan bersahabat. Jemaah yang merasa nyaman akan lebih betah berlama-lama di masjid dan semakin aktif memakmurkannya.

Sayangnya, pekerjaan marbot masih sering dipandang sebelah mata. Padahal, tanpa kehadiran mereka, masjid sulit berfungsi secara optimal.

Marbot masjid merupakan tulang punggung kenyamanan rumah ibadah. Dari membersihkan lantai hingga memastikan ibadah berjalan lancar, peran mereka menyatu dengan denyut kehidupan masjid itu sendiri.

Sudah semestinya masyarakat memberi apresiasi dan dukungan kepada para marbot. Karena melalui tangan-tangan merekalah, masjid tetap hidup, terawat, dan menjadi tempat yang menenangkan bagi siapa pun yang datang untuk beribadah.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here