JAKARTA – Nabi Muhammad SAW menganjurkan makan kurma saat berbuka puasa dan sahur, dengan sejuta manfaat kurma yang baik untuk tubuh.
Selain itu, dianjurkan juga makan kurma dalam jumlah ganjil sesuai kebiasaan yang diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW dan ini bagian dari sunnah.
“Barang siapa yang sarapan dengan tujuh butir kurma ajwa, maka tidak berbahaya baginya pada hari itu racun maupun sihir.” (HR Bukhari)
Selain karena sunnah, makan kurma harus ganjil dan dalam jumlah sederhana (tidak berlebihan) ada alasan medisnya.
Praktisi kesehatan dan anggota Lembaga Penelitian dan Pengembangan Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara dr. Titik Kusumawinakhyu, sebagaimana dikutip Antara, menjelaskan alasan medis kenapa makan kurma harus ganjil dan tidak berlebihan.
Ini karena ketika seseorang mengonsumsi kurma dalam jumlah banyak saat buka puasa khususnya, dipastikan akan memperberat metabolisme dan meningkatkan kadar glukosa pengonsumsinya. Makan kurma dalam jumlah sederhana, sejatinya sudah cukup untuk mengembalikan energi saat berbuka puasa.
Sementara makan kurma harus ganjil seperti 1, 3, atau 7 merupakan bagian dari sunnah Rasulullah, ini adalah praktik yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu kebiasaan makan beliau.
Al-Munawi dalam kitabnya Faidlul Qadîr menyebutkan bahwa Rasulullah memakan tujuh butir kurma yaitu karena kecintaan beliau kepada bilangan yang ganjil dalam segala urusan.
Rasulullah pernah melakukannya saat berbuka puasa ataupun hendak berangkat salat Idul Fitri.
Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan dikutip oleh At-Tabrizi (Muhammad bin Abdullah At-Tabrizi, Misykâtul Mashâbîh, Beirut, Al-Maktab Al-Islami, 1979), menyebutkan bahwa “Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallama tidak pergi untuk melaksanakan shalat Idul Fitri sampai beliau memakan beberapa butir kurma. Beliau memakannya ganjil.”





