spot_img

Mencetak Manusia luhur Indonesia 

2  MEI yang merupakan hari lahir Ki Dewantara diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sekaligus pengangkatan almarhum sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Dalam tulisannya (Kompas, (3/5), Ketum Majelis Luhur Tamansiswa, Sri Ed y Swasono mengulas Harkitnas kali ini yang berlangsung di tengah kemelut sengketa hasil Pilpres yang baru diputus dan pileg yang tengah diproses di Mahkamah Konstitusi.

Akar berbagai kontroversi dan heboh terkait pilpres dan pemilu yang belum pernah terjadi sebelumnya, kata Edi, jika dilihat jauh ke belakang dari kacamata Tamansiswa, mencerminkan gambaran gagalnya pengajaran nasional dalam mendidik manusia Indonesia yang berpekrti luhur, beretika dan bermoralitas tinggi sebagaimana digariskan Ki Hajar.

Maka terjdilah karutmarut di masyratakat. Ibaratnya, ketidakjujuran, ketidakbenaran dan ketidakadilan diwajarkan. Ketiga “K” tersebut tidak dihargai lagi. Indonesia menjadi “negeri sandiwara”yang menjadi sorotan memalukan dunia internasional.

Apa yang ditulis Edi, agaknya memang sudah menjadi rahasia umum. Lihat saja! Bagaimana pimpinan parpol, tim sukses pengusung suatu kontestan yang berbusa-busa menolak program kontestan lain, tiba-tiba ikut “merapat” ke koalisi parpol atau paslon pe pemenang.

“Sekarang kan pilpres sudah berakhir, “ kilah petinggi parpol ketika dipertanyakan pihak lain, kok begitu mudahnya orang bermain-main dengan ideologi partainya demi mengejar kekuasaan belaka?.

Sebaliknya, presiden terpilih dan koalisi pemenangannya agaknya juga bersikap pragmatis, lobi ke sana ke mari, berupaya merangkul sebanyak mungkin parpol lain agar suaranya pemeritahannya di parlemen solid.

Jika koalisi parpol pengusung pemenang pilpres dan yang kalah bergabung membentuk koalisi besar, tanpa oposisi atau kalua ada sekedear pemanis panggung politik, tentu berbahaya bagi demokrasi.

Sebaliknya, koalisi parpol yang kalah tentu berkilah, mereka merapat atau ikut bergabung dengan yang menang demi persatuan dan kesatuan, kemajuan bangsa atau slogan-slogan klise lainnya.

Lebih ironis lagi, pejabat yang berkoar-koar tentang nilai-nilai kejujuran, anti korupsi, hidup sederhana, di belakang ternyata sagat  rakus menilap uang rakyat.

Betul sekali apa yang disampaikan Bung Edi, mata pelajaran budi pekerti perlu dihidupkan lagi untuk menciptakan anak-anak yang berbudi luhur, jujur, toleran adil dan berjiwa besar.

Namun dengan (oknum) pemimpin, politisi yang mencla-mencle, lain kata dan perbuatan, korup dan haus kekuasaan, apa bisa ya  tercipta  karakter generasi masa depan seperti yang diimpi-impikan?

 

 

 

 

 

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles