JAKARTA, KBKNEWS.id — Di bawah tenda pengungsian yang berdiri di Desa Satar Kampas, Kecamatan Sambi Rampas, Musida (32) menjalani hari-harinya sebagai penyintas gempa bumi berkekuatan M 7,7 di Flores.
Dalam kondisi hamil, ia harus bertahan di tengah keterbatasan akses makanan bergizi dan perlengkapan kebersihan.
Saat gempa mengguncang, Musida bersama keluarga bergegas menyelamatkan diri ke bukit karena khawatir terjadi tsunami. Setelah situasi dinyatakan aman, mereka turun dan kini tinggal di tenda pengungsian bersama puluhan penyintas lainnya.
Musida mengaku kebutuhan pangan bergizi menjadi tantangan selama berada di pengungsian. Mendapatkan bahan makanan yang layak bagi ibu hamil tidak mudah dalam situasi darurat.
Untuk menjawab kebutuhan kelompok rentan, Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) meluncurkan Program Sarana Untuk Pelayanan Kelompok Rentan (SUPER). Program ini memberikan bantuan berupa telur, bahan makanan bergizi, perlengkapan mandi, pembalut, serta kebutuhan sanitasi bagi ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas.
“Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Semoga gempanya cukup sampai di sini saja, dan kita semua diberikan kesehatan serta perlindungan,” ujar Musida.
Ketua Dewan Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, mengatakan kelompok rentan menjadi prioritas dalam penanganan bencana karena memiliki risiko kesehatan dan psikologis lebih tinggi.
Melalui Program SUPER, Dompet Dhuafa tidak hanya menyalurkan bantuan gizi, tetapi juga memberikan layanan kesehatan dan pendampingan psikososial agar para penyintas merasa lebih aman selama masa tanggap darurat.
Dompet Dhuafa berharap dukungan terhadap kelompok rentan terus berlanjut hingga fase pemulihan. Masyarakat juga diajak bergotong royong membantu penyintas gempa NTT agar kebutuhan dasar ibu hamil, lansia, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya tetap terpenuhi.





