
BERBAGAI upaya yang dilakukan untuk menghentikan Perang Ukaina yang sudah berlangsung sejak 24 Oktober 2022 sampai hari ini belum berbuah.
Tak kurang dari Presiden AS Donald Trump yang mengultimatum kedua belah pihak (Rusia dan Ukraina) untuk segera berdamai, namun juga tidak menghasilkan apa-apa.
Upaya terakhir, Presiden Rusia Vladimir Putin ditemani ajudannya, Yuri Ushakov, dan utusan ekonomi Kirill Dmitriev, bertemu utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden Trump, Jared Kushner, di Kremlin, Moskwa, 2 Desember lalu.
Pertemuan tersebut adalah momen krusial bagi Ukraina dalam minggu yang diperkirakan penuh ketegangan, setelah beberapa hari diplomasi intensif.
Inti dari pertemuan ini adalah rencana perdamaian AS, yang kemudian direvisi di bawah tekanan dari Kyiv dan para pendukungnya di Eropa.
“Sejauh ini kami belum menemukan kompromi, tetapi beberapa solusi Amerika dibahas,” ujar penasihat utama kepresidenan Rusia, Yuri Ushakov, setelah pertemuan di Moskwa.
“Beberapa rumusan yang diajukan tidak sesuai bagi kami, dan pekerjaan akan terus berlanjut,” tambahnya. Trump mengatakan, kemajuan dalam mengakhiri perang yang hampir berlangsung empat tahun itu tidak akan mudah. “Perwakilan kami sedang berada di Rusia saat ini untuk melihat apakah kita bisa menyelesaikannya,” paparnya dalam rapat kabinet di Gedung Putih.
“Situasi memang tidak mudah, biar saya katakan. Benar-benar berantakan.” Sebaliknya, dalam wawancara yang disiarkan Selasa (2/12) malam di Fox News, Menlu AS Marco Rubio mengatakan, pembicaraan dengan Rusia “telah menghasilkan beberapa kemajuan” untuk mengakhiri perang dengan Ukraina.
Akhir perang secara permanen
Tidak jelas kapan tepatnya wawancara itu direkam. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada Senin (1/12), setiap rencana harus mengakhiri perang secara permanen, bukan hanya menghasilkan jeda pertempuran yang dimulai oleh ofensif Moskwa pada Februari 2022.
Ia juga mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa “tidak akan ada solusi yang mudah.”
“Yang penting adalah semuanya adil dan transparan. Tidak ada permainan yang dilakukan di belakang Ukraina. Tidak ada yang diputuskan tanpa Ukraina—tentang kami, tentang masa depan kami,” tekannya.
Kushner dan Witkoff akan menyerahkan versi baru rencana AS tersebut kepada Putin, yang telah dirumuskan ulang setelah versi awalnya memicu kekhawatiran di Kyiv dan Eropa bahwa rencana itu terlalu banyak memberi konsesi kepada Moskwa.
Ushakov mengatakan, rencana awal AS terdiri dari empat bagian, yang dibahas selama pertemuan lima jam di Kremlin.
“Ada beberapa poin yang bisa kami sepakati,” kata penasihat diplomatik utama Putin itu. Namun, “Presiden tidak menyembunyikan sikap kami yang kritis, bahkan negatif, terhadap sejumlah usulan.”
Putin menuntut agar Kyiv menyerahkan wilayah yang diklaim Moskwa sebagai miliknya dan juga menolak kehadiran pasukan Eropa di Ukraina untuk memantau gencatan senjata.
Dalam unggahan di media sosialnya, Zelensky mengatakan, “Pertanyaan paling sulit berkaitan dengan wilayah, aset (Rusia) yang dibekukan, dan jaminan keamanan.”
Meski demikian, pembicaraan di Moskwa “bermanfaat”, papar Ushakov, dan posisi Rusia dan AS tidak semakin berjauhan setelahnya.
Selain Pokrovsk, Kyiv berada di bawah tekanan di banyak front. Pasukan Rusia bergerak cepat pada November di Ukraina timur, dan Kyiv diguncang skandal korupsi yang berujung pengunduran diri negosiator utamanya yang juga tangan kanan Zelensky.
Makin intensif
Moskwa juga meningkatkan serangan drone dan rudal ke Ukraina dalam beberapa pekan terakhir, yang menyebabkan ratusan ribu orang hidup tanpa listrik dan pemanas. Zelensky menuding Kremlin berusaha menghancurkan negaranya.
Di sisi lain, pemimpin Rusia menuduh Eropa mensabotase kesepakatan mengenai konflik tersebut dan mengirim pesan suram dengan mengatakan,
“Kami tidak berencana berperang dengan Eropa, tetapi jika Eropa menginginkannya dan memulai, kami siap saat ini juga.”
Zelensky mengatakan, ia berharap dapat membahas isu-isu kunci dengan Presiden AS dan menyiratkan bahwa motivasi sebenarnya Moskwa untuk pembicaraan dengan AS adalah guna melonggarkan sanksi Barat.
Tarik ulur pihak yang berkonflik, gengsi dan integritas dan kepentingan serta politik dalam negeri masing-masing agaknya membuat kandas setiap prakarsa perdamaian. (Deutsche Welle/al Jazeera/Kompas.com/ns)




