Putaran Dua Calon Jawara Betawi

PILKADA serentak 2017 khususnya di DKI Jakarta yang menjadi bara-api, berpotensi mengancam persatuan karena bercampur-baurnya berbagai kepentingan, berlangsung relatif aman dan lancar walaupun tentu ada saja riak-riak dan percikan kecil.

Rekapitulasi dan hasil penghitungan suara baru akan diumumkan secara resmi oleh KPU DKI sekitar 27 – 29 Februari, namun hasil perolehan suara sementara yang dikeluarkan para polster dalam hitung cepat (quick count), angkanya tidak akan terpaut jauh.

Pasangan nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Basuki unggul dari kedua paslon lain yakni pasangan nomor urut 1 Agus Harimurti – Syliviana Murni serta pasangan nomor urut 3 Anies Baswedan – Sandiaga Uno.

Hitung cepat Cyrus Network mencatat, Agus-Sylvie hanya mampu mengumpulkan 17,0 persen suara, Ahok- Djarot 43,9 persen dan Anies – Sandiaga 39, 1 persen, sedangkan menurut PolMark Indonesia, Agus –Sylvi meraih 19,1 persen, Ahok- Djarot 41,2 persen dan Anies – Sandiaga 39,7 persen.

Sementara LSI menyebutkan, Agus – Sylvi mendulang 16,9 persen suara, Ahok – Djarot 43,2 persen dan Anies – Sandiaga 39,9 persen, sedangkan menurut SMRC, Agus – Sylvi meraih 16,7 persen, Ahok- Djarot 43,1 persen dan Anies – Sandiaga 40,2 persen.

Mengingat tidak satu paslon pun meraih 50 persen suara plus satu, kursi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta akan diperebutkan lagi antara Ahok – Djarot dan Anies – Sandiaga pada putaran kedua, dijadwalkan pada 19 April 2017. Jadwal bisa berubah menanti keputuan MA jika terjadi sengketa terkait hasil pemungutan suara.

Hasil Kerja
Dari hasil perolehan suara, pemilih terutama dari kalangan menengah ke atas tampaknya lebih meyakini hasil kerja paslon petahana, terutama Ahok ketimbang memilih berlatar belakang kesamaan primordial atau agama.

Elektabilitas Ahok sempat anjlok pasca aksi massa 414 (4 November) dan 212 (2 Desember) terkait kontroversi penistaan agama yang ditimpakan padanya dan yang kemudian menyeretnya menjadi terdakwa.

Ahok bergeming di tengah terpaan isu-isu miring lawan-lawan politiknya, mulai dari tudingan melakukan deparpolisasi saat ia maju sebagai calon independen dan dugaan rasuah atau memperkaya diri dalam kasus proyek Reklamasi Teluk Jakarta dan pembelian lahan RS Sumber Waras. Kedua tuduhan belum bisa dibuktikan KPK.

Elektabilitas Agus – Sylvi pada level 37, 1 persen yang mengungguli kedua paslon lainnya, mulai tergerus pasca debat publik I dan II, selain akibat Ahok- Djarot berhasil meyakinkan kinerjanya, juga terkait persoalan internal Partai Demokrat, pengusung utama dan juga akibat persoalan pendukung lainnya di luar partai.

Penyadapan pembicaraan telpon antara Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo B Yudhoyono (SBY) yang sekaligus ayah Agus dan Ketua MUI Ma’ruf Amin yang diduga berujung dikeluarkannya fatwa MUI mengenai penistaan agama terhadap Ahok kemungkinan memberikan andil tergerusnya alektabilitas Agus – Sylvi.

Tudingan SBY bahwa penyadapan itu adalah perbuatan ilegal, justeru berbalik menciptakan persepsi negatif dan mengundang pertanyaan terhadap sikap kenegarawanan presiden ke-6 RI itu dan sekaligus menurunkan elektabilitas Agus – Sylvi.

Maklumat pada publik untuk memilih Agus yang dikeluarkan SBY menjelang masa tenang Pilkada, ditambah lagi dengan tudingan mantan Ketua KPK Antasari terkait dugaan keterlibatan SBY merekasaya kasus pembunuhan yang menjerat Antarasari menjadi terpidana, juga membuat elektabilitas Agus – Sylvi anjlok.

Sebaliknya, Ahok diuntungkan dengan memudarnya pengaruh para tokoh garis keras seperti Ketua FPI Rizieq Shihab yang meminta massanya memilih paslon seiman, pasca tuduhan penistaan agama dan Bung Karno yang ditimpakan kepadanya.

Cukup menggembirakan pula, walaupun hal biasa di banyak negara lain, Agus secara kesatria mengaku kalah dan langsung menghubungi Ahok dan mencoba menghubungi Anies untuk mengucapkan selamat pada mereka.

Besarnya antusiasme warga mengikuti pemungutan suara, juga membangkitkan optimisme karena bermakna meningkatnya kesadaran warga menggunakan hak pilihnya. Hal itu tercermin dari 78 persen yang mencoblos dalam pilkada 2017 atau paling tinggi dibandingkan penyelenggaraan pilkada-pilkada sebenarnya.

Selanjutnya, diharapkan agar sang pemenang tidak jumawa, bersiap untuk bertarung lagi di putaran kedua, dan yang kalah tidak terlalu kecewa karena kesempatan masih terbuka di ranah perjuangan lain atau pada pilkada berikutnya.

Persaingan alot

Pertarungan untuk menduduki singgasana gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta di putaran kedua pilkada 2017 diperkirakan alot, selain adu “menjual” gagasan dan program, kejadian yang berdampak pada paslon serta kesepakatan antarparpol.

Sekitar 17 persen pemilih yang pada putaran I mencoblos gambar Agus – Sylvi, pada putaran II akan beralih ke paslon Ahok – Djarot atau Anies – Sandiaga.
Kedua paslon juga masih memperebutkan pemilih yang masih bisa beralih (swing voters) sehingga masih mungkin mengalihkan pilihannya dan juga pemegang hak pilih yang belum menentukan pilihannya (undecided voters).

Keputusan persidangan terkait kasus penistaan agama yang mendudukkan Ahok sebagai terdakwa tentu hasilnya akan berdampak positif atau negatif . Jika posisi Ahok menguntungkan, tentu dukungan terhadap Ahok akan bertambah. Begitu pula sebaliknya.

Rencana pembentukan angket di DPR untuk menonaktifkan Ahok terkait polemik hukum terhadap pengenaan pasal 156 dan 156 A KUHP yang memuat ancaman masa hukuman kurungan juga bisa berdampak pada elektabilitas Ahok.

Sebagai petahana, Ahok – Djarot memiliki “credit point” dengan menampilkan hasil kerjanya, seperti menyulap daerah lokalisasi kumuh Kali Jodoh dan membangun KTRA lainnya, pembangunan sarana dan prasarana umum, serta pemberian berbagai fasilitas dan kemudahan bagi warga miskin.

Sebaliknya, Anies dan Sandiaga dengan mudah akan “memotret” apa-apa yang belum dilakukan, kekurangan, dan untuk melakukan lebih baik dari petahana. Kesantunan Anies dalam berorasi dan entrepreneurship Sandiaga untuk mendorong kegiatan UMKM dan menyediakan perumahan bagi rakyat dengan skim-skim pembayaran ringan diharap ikut menjaring suara calon pemilih.

Pernyataan Ketua Umum Gerindra Prabowo yang meminta calon pemilih untuk memilih paslon Anies – Sandiaga jika menginginkannya mencalonkan diri sebagai calon presiden semakin memperjelas, ajang pilkada sebagai wahana atau “test case” menuju Pilpres 2019.

Peluang bagi kedua paslon akan ditentukan oleh pilihan akar rumput walaupun deal-deal atau komunikasi politik antarparpol dalam kurun waktu dua bulan menjelang babak putaran II pilkada juga tidak bisa dikesampingkan pengaruhnya.

Langkah pengusung Agus – Sylvi pada putaran I yakni Partai Demokrat, PAN, PPP dan PKB tentu akan ada berdampak pada pengumpulan suara kedua paslon dalam putaran II.

Bagi para calon pemilih. Sekali lagi, pertimbangkan masak-masak dan teliti sebelum menjatuhkan pilihan!

Advertisement