Radar Canggih AS di Saudi Senilai Rp2,3 Triliun Rusak akibat Serangan Balasan Iran

Infrastruktur pertahanan udara AS di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi, mengalami kerusakan dalam serangan balasan Iran. (Foto: X/@SoftWarNews)

Jakarta, KBKNews.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Laporan terbaru mengungkapkan infrastruktur pertahanan udara milik Amerika Serikat (AS) mengalami kerusakan serius setelah menjadi sasaran serangan balasan dari Iran pada 27 Maret 2026 lalu. Fokus utama kerusakan berada di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi, yang selama ini menjadi salah satu pilar pengamanan kawasan.

Berdasarkan analisis citra satelit yang dirilis oleh CNN, komponen paling terdampak adalah radar AN/TPY-2. Perangkat ini bukan sekadar alat pelacak biasa, melainkan “mata” dari sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang sangat tersohor.

Kondisi Radar Pascaserangan: Hangus dan Terbuka

Rekaman satelit menunjukkan pemandangan yang kontras di area pangkalan. Radar AN/TPY-2 yang biasanya terlindungi, kini terlihat berada di tempat terbuka dalam kondisi memprihatinkan. Unit antena yang menjadi bagian inti dari sistem ini tampak menghitam akibat jilatan api. Sementara beberapa komponen besar lainnya dilaporkan hilang dari posisinya di atas trailer pengangkut.

Kehilangan atau rusaknya alat ini merupakan kerugian finansial yang masif bagi militer AS. Merujuk pada data anggaran Badan Pertahanan Rudal Amerika Serikat tahun 2025, satu unit radar AN/TPY-2 memiliki nilai fantastis mencapai 136 juta USD atau setara dengan kurang lebih Rp2,31 triliun.

Rantai Dendam: Bermula dari Serangan ke Teheran

Gelombang serangan ini tidak terjadi di ruang hampa. Situasi memanas bermula pada 28 Februari lalu, saat pasukan Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan ke sejumlah wilayah di Iran, termasuk jantung ibu kota, Teheran. Serangan tersebut dilaporkan memicu kerusakan infrastruktur yang luas dan menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil Iran.

Pihak Teheran merespons tindakan tersebut dengan melancarkan operasi balasan skala besar. Tidak hanya menargetkan wilayah Israel, Iran juga memperluas jangkauan serangannya ke berbagai fasilitas militer Amerika Serikat yang tersebar di negara-negara teluk. Mulai dari Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga pangkalan udara di Arab Saudi.

Dampak terhadap Kesiagaan Pertahanan

Lumpuhnya radar AN/TPY-2 di Pangkalan Prince Sultan diprediksi akan menciptakan celah dalam sistem deteksi dini rudal balistik di kawasan tersebut. Tanpa radar yang berfungsi optimal, kemampuan sistem THAAD untuk mencegat ancaman udara menjadi sangat terbatas.

Hingga saat ini, pihak otoritas pertahanan Amerika Serikat belum memberikan pernyataan resmi mengenai berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki atau mengganti perangkat strategis tersebut. Di sisi lain, dunia internasional terus memantau situasi ini dengan cemas, mengkhawatirkan terjadinya perang terbuka yang lebih luas di tanah Timur Tengah.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here