Harga Beras Melonjak Lagi

Stok beras defisit pada Januari dan Februari akibat panen molor, akibatnya harga melonjak.

HARGA beras di sejumlah wilayah di Indonesia melonjak dibandingkan harga pada periode sama tahun lalu antara lain akibat molornya panen raya dari Maret – April menjadi April-Mei disebabkan dampak perubahan iklim.

Harga beras kualitas medium (maks. bulir patah 25  persen) per 22 Jan. Rp13.260 per Kg atau di atas harga tahun lalu   (Rp13. 210) yang juga di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah (Rp10.000 sampai Rp11.000) sesuai zonasinya.

Sedangkan Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa BPS Puji Ismartini mengemukakan, kenaikan harga beras medium pada pekan ketiga Januari sudah di atas rata-rata harga tertinggi nasional (naik 0,28 persen secara mingguan).

Selama Januari sampai Februari tahun ini diperkirakan terjadi defisit stok beras sebagai dampak perubahan iklim yang terjadi pada awal 2024,

Menurut BMKG, El Nino di Indonesia memang sudah mulai berakhir atau tidak sekuat pada Juni – Oktober 2023, namun demikian tidak seluruh wilayah diIndonesia kondisi cuacanya sama di awal 2024.

Ada wilayah yang mulai kering, sehingga belum bisa ditanami pad1, ada juga yang sudah basah sehingga musim tanam bisa dimulai dan ada juga wilayah rawan banjir akibat curah hujannya berlebihan namun sudah memulai tanam padi.

Akibatnya, panen padi tahun ini diperkirakan akan mundur pada April atau Mei akibat dampak El Nino tahun lalu , sementara produksi padi nasional diperkirakan juga aan turun pada Desember 2023 hingga Maret 2024.

Januari, titik terendah

Titik terendah produksi padi akan terjadi pada Januari dan Februari, sehingga persediaan pada sepanjang dua bulan tersebut dalam keadaan kritis dan baru mulai merangkak naik pertengagahan Maret dan puncaknya pada April 2024

Demi meredam lonjakan harga beras lebih tinggi lagi, pemerintah akan menaikkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) minimal 1,5 juta ton melalui serapan gabah produksi dalam negeri dan impor serta menggulirkan bantuan beras tahap pertama sebanyak22 juta ton bagi keluarga miskin.

Produksi dan impor beras dari tahun ke tahun sejak 2019 relatif stagnan, kecuali pada 2023, dimana terjadi penurunan produksi dalam negeri dan kenaikan impor cukup signifikan.

Pada 2019 jumlah produksi beras 54,507 juta ton, impor 444.000 ton, tahun 2020 produksi 54,649 juta ton, impor 356.000 ton, tahun 2021 produksi 54,415 juta ton, impor 407.000 ton, tahun 2022 produksi 54,748 juta ton, impor 429.000 ton dan tahun 2023 produksi 53,625 juta ton, impor 2.813 juta ton.

Ke depannya, program intensifikasi dengan meningkatkan produktivitas tanaman padi, penemuan benih unggul dan mekanisasi harus ditingkatkan, sementara ekstensifikasi lahan mungkin masih bisa dikembangkan di luar Jawa.

Diversifikasi pangan, dengan mempromosikan berbagai umbi-umbian dan biji-bijian selain beras sebagai makanan pokok juga perlu diintensifkan lagi.

Bagi penduduk Indonesia, beras adalah komoditi strategis. Sesuai kredo “perut tidak dapat menunggu” sehingga segenap pemangku kebijakan harus bersungguh-sungguh menanganinya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here