SITUASI di kawasan Timur Tengah terus memanas diwarnai serangan rudal oleh parapihak yang bertikai menyusul tewasnya empat anggota Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) di Suriah, Sabtu (20/1).
IRGC tidak menyebutkan identitas anggotanya yang terbunuh akibat serangan drone Israel ke kompleks perumahan diplomat di kawasan Mazzeh, ibu kota Suriah Damaskus itu, namun dua diantaranya diduga petinggi IRGC.
Lima ledakan membuat bangunan rumah bertingkat tersebut runtuh saat sedang berlangsung pertemuan antara petinggi IRGC dengan sejumlah tokoh fraksi-fraksi perlawanan Palestina.
Menurut Lembaga Monitor HAM di Suriah, sejak Desember 2023, ada 23 tokoh kubu pendukung Iran di Suriah yang tewas akibat serangan Israel, salah satu diantaranya Panglima IRGC di Suriah, Brigjen Reza Mousavi awal Desember lalu.
Menyusul serangan itu, milisi Houthi pro Iran untuk pertama kalinya meluncurkan rudal balistik ke posisi-posisi pasukan AS di Irak dimana sebelumnya mereka hanya mengirimkan roket-roket tanpa kendali atau drone berteknologi rendah.
IRGC pada harai yang sama (Sabtu 20/1) juga mengirimkan rudal-rudalnya ke wilayah Irak, menyasar apa yang diklaimnya pos-pos intelijen Israel di negara tetangganya itu.
Sementara pesawat-pesawat tempur AS yang berpangkalan di Bahrain dan AL-nya di Laut Merah pada hari yang sama menyerang posisi-posisi milisi Houthi di Yaman yang sebelumnya mengancam kapal-kapal dagang yang lalu-lalang di perairan tersebut dari dan ke Israel.
Di Gaza, Israel walau sudah menurunkan intensitas serangan dan menarik sebagian pasukannya, masih membombardir Gaza dan menimbulkan korban jiwa dalam upaya memburu milisi Hamas yang masih terus melakukan perlawanan sengit dari bawah terowongan-terowongan bawah tanah.
Sudah sek (itar 24.000 milisi Hamas yang berbaur dengan warga Palestina di Gaza terutama anak-anak dan perempuan tewas , sekitar 60.000 luka-luka akibat bombardemen dari darat dan udara oleh Israel ke wilayah itu.
Seruan PBB dan komunitas internasional untuk menghentikan perang yang menimbulkan banyak korban terutama rakyat tak berdosa dan hancurnya prasarana dan sarana publik sejauh ini bagai teriakan sia-sia di gurun Sahara.
Rezim Israel dibawah PM Benjamin Netanyahu bergeming dan menganggap apa yang dilakukannya adalah aksi bela diri untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan rakyatnya.
Sepanjang banyak pihak berkepentingan, termasuk kekuatan global yang menjadi proksi atau perpanjangan tangan para-pihak yang bertikai, agaknya kawasan Timur Tengah masih jauh dari perdamaian dan penyelesaian isu Palestina secara damai. (Berbagai sumber/ns)





