Rumah Juga Tak Aman dari Kekerasan

Empat bocah tewas mengenaskan dibekap ayah kandungnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu (3/12) . Sistem pengawasan dan pelaporan di tigkat kelurahan (RT,RW, Babinsa dan Babinkantibmas) perl dievaluasi untuk mencegah kekerasan berujung maut di lingkungan perumahan.

ANCAMAN maut akibat aksi-aksi kekerasan tidak saja terjadi di jalanan atau ruang-ruangĀ  publik misalnya gegara tawuran, serempetan kendaraan, saling pandang atau saling olok, rampok dan begal, tetapi juga di dalam rumah dan pelakunya tak jarang orang-orang terdekat.

Sungguh mengenaskan, empat anak di bawah umur: Va (6), Sa (4), Aa (3) dan Ak (1) ditemukan tewas di rumah kontrakan di Gang Roman, RT004/RW03 Kel. Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (6/12) diduga dibantai ayah kandungnya (PD) setelah cekcok dengan isterinya (DP).

Menurut Kapolres Metro Jaksel Kombes Ade Ary Syam, petugas Polsek Jagakarsa berbekal laporan warga yang sudah lebih dulu membongkar paksa kunci rumah setelah tercium bau menyengat dari dalamnya.

PD ditemukan meringkuk di kamar mandi, bersimbah darah dengan luka sayat di tangan, kaki dan perut dan sebilah pisau di dekatnya sehingga diduga ia mencoba bunuh diri dengan menyayat nadi setelah membantai empat anaknya.

Polisi juga menemukan tulisan dengan tinta merah: ā€œPuas bunda, txs for allā€ yang masih diteliti motif dan juga siapa yang menulisnya.

Diduga sebelum membantai keempat anaknya, PD cekcok, lalu melakukan KDRT pada isterinya, DP yang dilihat warga berjalan dengan wajah lebam dan berlumuran darah menuju rumah sakit.

Dari hasil interogasi oleh pihak polisi, DP sudah dirawat di RSUD Pasar Minggu sejak Sabtu lalu (2/12) sehingga diduga pula, setelah melakukan KDRT, P membantai semua keempat anaknya di hari yang sama.

Menurut tetangga, Titien (49)Ā  DPĀ  (Senin, 4/12) juga meminta anggota babhinsa ke rumahnya untuk mengecek kondisi keempat anaknya, namun bintara tersebut tidak memeriksanya lebih jauh dengan alasan tidak ada yang menyahut saat ia mengetuk pintu. Titien (49) mengenal keempat anak tersebut berperangai baik dan penurut dan sering bermain ke rumahnya.

ā€œMereka dengan riang bermain di luar rumah tiap hari, gak nyangka tau-tau meninggal secara mengenaskan, ā€œ tuturnya,

Sementara Ketua RT004 RW003 Kel. Jagakarsa, Yakub mengungkapkan, tragedi itu bermula dari cakcok antara PD dan isterinya, DP, berujung KDRT terkait persoalan ekonomi.

PD yang semula supir di salah satu perusahaan angkutan berhenti bekerja setelah kelahiran anaknya yang keempat, begitu pula DP yang bekerja di sebuah kantor, sehingga terlilit kesulitan ekonomi, tercermin dari nunggak bayar kontrakan empat bulan.

Ā Lingkungan abai

Sulit untuk mencegah kekerasan yang pelakunya orang-orang terdekat korban dan dilakukanĀ  di dalam rumah atau ruang tertutup, namun dengan meningkatkan kepekaan semua pihak, tentu risikonya bisa ditekan.

Tetangga perlu cawe-cawe jika mendengar rumah tangga yang sering cekcok atau melapor pada pengurus RT setempat jika takut dituduh ikut campur urusan rumha tangga orang, begtu pula pengurus RT/RW.

Anggota babhinkamtibmas (polisi) dan babinsa (TNI) yang diperbantukan menangani masalah keamanan di level kelurahan juga diminta proaktif, menjadi mata-telinga isu-isu di tengah masyarakat.

Sejumlah kasus kekerasan berujung kematian terjadi mulai dari CT (10) di Manado yang meninggal (24 Jan ’22) setelah sebulan dirawat di RS akibat kekerasan seksual oleh ayahnya (MB, 34) .

Sementara di Kel. Pekayon, Kec. Pasar rebo, Jaktim, AF (2) meninggal setelah dianiaya oleh kakek dan nenek titinya, 17 Januari lalu akibat rewel, begitu pula APN (2) di Kel. Klender, Duren Sawit, Jaktim yang meninggal dianiaya ibu kandungnya (N) pada 25 Januari dan MA (2) mengembuskan naasnya yang terakhir setelah dianiaya kekasih ibunya. Sedangkan siswa SD di Semarang Timur, Jateng DKW (11) meninggal akibat kekerasan seksual, 1 November lalu.

Walau bukan karena akibat tindak kejahatan, kematian sunyi lebih dari seorang di rumah sendiri yang viral di media terjadi di Kaliderses, Grogol, Jakarta Barat 10 Nov. 2022 dimana empat orang ditemukan membusuk, ibu dan anak yang ditemukan sudah menjadi kerangka di Cinere, Depok, Jabar (7 Sept. 2023) dan seorang bapa dan anaknya ditemukan tewas di Koja, Jakut 28 Okt. 2023.

Sudah waktunya, pemerintah daerah merumuskan upaya mitigasi dan pencegahan kekerasan dan bentuk kejahatan lain yang bisa berujung hilangnya nyawa dilingkungaĀ  rumah dan rumah tangga.

Sistem pengawasan oleh petugas di level kelurahan, pengurus RT, RW, babinsa dan babhinkantibmas serta sistem komunikasi ketetanggaan perlu ditata untuk mencegah anomali, perilaku menyimpang atau tindak kejahatan di lingkungan permukiman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement