JAKARTA, KBKNews.id — Seorang ibu muda di Jakarta Utara, Adawiyah, menyimpan kisah getir akibat kemiskinan. Ia sempat menyerahkan bayi kandungnya untuk diadopsi.
Namun, Adawiyah kembali berjuang untuk bisa memeluk anaknya lagi untuk selamanya, setelah mengetahui bahwa orang tua asuh sang anak memiliki keyakinan yang berbeda. Dalam perjuangannya, Dompet Dhuafa turut membersamai langkahnya.
Sebelum bertemu dengan Tim Advokasi Dompet Dhuafa, Adawiyah telah mengetuk banyak pintu untuk mendapatkan bantuan hukum dan moril. Ia mengakui keterbatasan pengetahuan serta kondisi ekonomi menjadi hambatan yang membuatnya tak mampu berjuang seorang diri.
Lima bulan kemudian, tepatnya pada Kamis (3/7/2025), bayi tersebut akhirnya kembali ke pelukan Adawiyah. Setelah perjuangan panjang yang penuh air mata, penyesalan, dan harapan yang tak pernah padam, bayi bernama Rafka itu pun menangis di pangkuan yang semestinya.
Ricardo Hutahaean, tokoh masyarakat setempat, membenarkan bahwa kasus seperti ini bukan hal yang asing. Menurutnya, di lingkungan sekitar masih banyak keluarga miskin yang hidup tanpa identitas, tanpa akses pendidikan, dan tanpa pemahaman hukum.
“Banyak dari mereka tidak tahu bahwa apa yang dilakukan terhadap mereka itu salah. Mereka mudah dibujuk, diiming-imingi, karena berpikir tidak ada yang bisa mereka andalkan selain janji,” ujarnya pada 3 Juli 2025.
Tim Advokasi Dompet Dhuafa turun langsung mendampingi proses pemulangan bayi Rafka ke pelukan ibu kandungnya. Proses tersebut tidak sederhana. Banyak tekanan, keberatan, dan pertimbangan emosional yang harus dihadapi di lapangan.
Kini, nama Rafka telah resmi tercantum dalam Kartu Keluarga (KK) milik Adawiyah, berdampingan dengan nama ayah dan ketiga kakaknya. Ia kini resmi terdata, terlindungi secara hukum, dan kembali ke keluarga yang berhak membesarkannya.
Dalam proses tersebut, Adawiyah didampingi oleh Dompet Dhuafa, Ketua RT setempat, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Dinas Sosial, serta pihak kepolisian.
Awalnya, suasana berlangsung cukup tegang. Masing-masing pihak menyampaikan keberatan dan kekhawatiran mereka.
Namun, pendekatan humanis dan dialog yang bijak akhirnya membuat proses berjalan dengan damai. Ibu asuh pun merelakan Rafka kembali ke pelukan ibu kandungnya.
Suasana haru pecah. Semua yang hadir tak kuasa menahan air mata. Saat Rafka dibawa pulang, sang kakek dan nenek menyambut cucunya dengan tangis bahagia.
“Saya hanya ingin Rafka kembali. Saya ingin membesarkan anak saya sendiri. Saya menyesal, sangat menyesal, dan saya berjanji akan menjaga dia sebaik-baiknya. Terima kasih sudah membantu menyelamatkan kami. Terima kasih, ya Allah, sudah mengirim banyak orang baik,” ujar Adawiyah dengan suara parau dan mata sembap.
Selanjutnya, Dompet Dhuafa bersama pihak-pihak terkait akan terus memantau perkembangan Rafka dan Adawiyah, termasuk memastikan kondisi kesehatan serta pemenuhan kebutuhan primer selama masa pemulihan ini.





