
HARI ini, pada 11 September 2001, 23 tahun lalu, warga dunia pasti tidak melupakan peristiwa kelam, tragedi  9/11 yang merenggut lebih 3.000 korban jiwa, sebaliknya menjadi kisah paling sukses aksi teroris.
Sekitar 2.753 korban tewas di Menara Kembar WTC, gedung berlantai 110 setinggi  417m dan 415 m terletak di lokasi strategis kota metropolitan New York setelah sengaja ditabrak dua pesawat kelompok teroris yang sudah merancang serangan sejak lama.
Di lokasi lain pada hari yang sama, 184 orang tewas di gedung Pentagon, Virginia saat teroris melakukan aksi serupa, menabrakkan pesawatnya,begitu pula 40 korban yang tewas di lapangan Pennsylvania.
Tiga serangan bunuh diri beruntun menggunakan empat pesawat komersial itu juga menelan korban lebih 400 anggota polisi dan pemadam kebakaran serta 19 pelakunya, diyakini kelompok teroris Al Qaeda.
Dari sisi teroris, persiapan yang mereka lakukan tentu cukup lama dan matang, mulai dari melatih pilot menerbangkan pesawat, menghindari endusan radar, mengingat sasaran adalah obyek vital dengan pengamanan berlapis.
Pesawat ketiga menabrakkan diri ke Pentagon, di Arlington, Virginia yang merupakan mabes Departemen Pertahanan AS Â setelah sejumlah penumpang gagal merebut kendali dan pesawat jatuh di lapangan kosong di Pennsylvaina barat.
Yang semula menjadi pertanyaan para ilmiawan adalah ikut terbakarnya Menara WTC 7 berlantai 47 setelah Menara Kembar (WTC 1 dan WTC 2) runtuh akibat tumbukan keras dua pesawat Boeing.
Sejumlah teori konspirasi bermunculam terkait peristiwa serangan 9/11 atau tragedi 11 September misalnya terkait  runtuhnya gedung pencakar langit berlantai 47 ( WTC 7) yang berada di sekitar menara kembar WTC yang hancur.
Namun dari hasil investigasi National Institute of Standards and Technology akhirnya disimpulkan, WTC 7 runtuh disebabkan kebakaran hebat selama tujuh jam dipicu oleh puing-puing menara WTC bagian utara yang berada di dekatnya.
Sejumlah teori konspirasi bermunculan terkait pelaku dan dalang aksi teror tersebut, bahkan ada yang menuding AS lah yang harus bertanggungjawab atas serangan 9/11 atau paling tidak sudah dituding sudah mengendus tapi membiarkannya terjadi.
Muncul juga klaim bahwa bahan bakar pesawat diyakini tidak dapat melelehkan balok baja penyangga bangunan WTC sehingga berita spekulasi menyebutkan, WTC hancur akibat bahan peledak, bukan ditabrak pesawat.
Namun menurut laporan resmi, pesawat yang menabrak,  menghancurkan kolom penyangga kedua menara dan mengikis  lapisan anti api. Selain itu, suhu kebakaran mencapai 1.000 Celcius di beberapa area, menyebabkan balok baja melengkung sehingga bangunan roboh.
Ada pula teori yang menyebutkan, sebuah rudal ditembakkan ke Gedung Pentagon saat terjadi serangan 9/11. Dugaan ini didasarkan fakta, mustahil gedung hanya mengalami kerusakan ringan jika ditabrak sebuah pesawat penumpang yang bobotnya lebih 100 ton.
Sementara teori konspirasi lain menyebutkan, pesawat yang jatuh jatuh di Pennsylvania, sebenarnya terkena tembakan dari sebuah pesawat jet bisnis yang terbang di dekat bandara.
Penganut teori konspirasi juga mencurigai kegagalan AU AS yang yang terkuat di dunia, faktanya tidak mampu mencegat salah satu dari pesawat yang dibajak.
Namun, laporan resmi mengunkapkan, pembajak telah mematikan transponder saat melancarkan serangan. Terlebih lagi, pada hari itu sedang berlangsung latihan militer rutin di komando pertahanan udara AS dan mengawasi lautan untuk menghadapi ancaman Perang Dingin.
Teori konspirasi juga menganggap ada kejanggalan, mengingat tidak satu pun warga Yahudi yang menjadi korban serangan 9/11, padahal ada sekitar 4.000 etnis orang Yahudi di WTC sehingga diduga mereka diminta sebelumnya untuk tidak masuk kerja.
Jadi teori tersebut menyimpulkan, Israel berada di balik serangan 9/11 untuk menggiring AS agar menyerang musuh-musuhnya, namun laporan resmi menunjukkan, dari 2.071 korban serangan 9/11 yang bekerja di WTC, 119 di antaranya dipastikan etnis  Yahudi.
Â
Kronologis singkat
Sembilan belas anggota Al-Qaeda membajal empat pesawat komersil jenis Boeing berbeda. Dua pesawat terbang ke arah Menara Kembar WTC di New York, pesawat ketiga menabrak kemenhan AS, Pentagon dan pesawat keempat jatuh di sebuah lapangan di Pennsylvania.
Pukul 08:14  waktu setempat, pesawat Boeing B-767 United  Airlines dengan 65 orang di dalamnya lepas landas dari Bandara Boston menuju Los Angeles.
Pukul 08:20 American Airlines Boeing B-757 Flight 77 dengan 64 kru dan penumpang lepas landas dari Bandara Int’l Dulles di luar Washington DC menuju Los Angeles.
Pukul 08:41 United Airlines Boeing B-757 Flight 93 dengan 44 orang di dalamnya lepas landas dari Bandara Newark Int’l menuju San Fransisco.
Sekitar 18 menit setelah peristiwa pertama, pesawat kedua yang diarahkan ke lantai 60, membelah Menara Selatan WTC, lalu sekitar pukul 09.45 pesawat American Flight 77 bersama 64 kru dan penumpang berputar-putar di atas Washington DC dan meabrakkan diri ke Gedung Pentagon, menewaskan 125 personil militer termasuk sejumlah warga sipil.
Menara WTC Selatan yang ditabrak pesawat pertama runtuh pukul 09:59 akibat struktur baja yang menahannya melengkung leh panas api, disusul runtuhnya Menara WTC 2 pada pukul 10:28. Kedua gedung runtuh dalam waktu sekitar dua jam setelah ditabrak pesawat.
Sementara pesawat keempat Flight 93 United Airlines yang terbang dari Bandara Newark Liberty, New Yersey juga dibajak dan terjadi kekacauan di kocpit setelah sejumlah kru berusha merebut kendali dan pesawat diarahkan pelaku ke sebuah lapangan di Pennsylvania.
Tragedi besar sering memunculkan ragam spekulasi termasuk teori konspirasi. Ada yang nalar, ada pula yang asal-asalan atau berdasarkan keberpihakan, memanfaatkan momen untuk menyerang lawan, sehingga terkadang fakta di baliknya membingungkan atau tetap menyimpan misteri.
Nalar, literasi, obyektvitas dituntut untuk menyimpulkannya!




