SLI Dompet Dhuafa Upayakan Guru Miliki Kesejahteraan Psikis

JAKARTA – Koordinatoriat Wartawan Parlemen bekerja sama dengan Biro Pemberitaan Parlemen DPR RI menyelenggerakan Diskusi Forum Lesgislasi bertepatan dengan Hari Guru pada Senin (25/11/2019) lalu.

Diskusi tersebut membahas kesejahteraan guru dengan relevansi kemajuan Pendidikan di Indonesia.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri mengatakan kesejahteraan guru bisa dengan mudah diatasi apabila anggaran Pendidikan dapat disalurkan dengan optimal. Anggaran sebesar 20% dari jumlah APBN yang dialokasikan kepada dunia pendidikan, nyatanya tidak optimal. Beberapa alokasi bahkan tidak jelas menyasar kepada pendidikan atau bukan.

“Dua puluh persen anggaran APBN itu sekitar Rp500 triliun, itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan gaji kepada seluruh guru-guru kita. Tapi nyatanya pengalokasian anggaran masih kurang efisien. Sehingga tidak menjangkau dunia pendidikan sepenuhnya,” terangnya.

Namun, Direktur Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Dompet Dhuafa, Asep Sapaat menyampaikan hal yang berbeda. Kesejahteraan guru tidak hanya diukur melalui upah. Melainkan pemberian keleluasaan dalam berfikir dan bersikap, yang juga bisa melahirkan kesejahteraan murid.

“Kesejahteraan guru dibagi menjadi dua, kesejahteraan fisik berupa upah dan itu penting. Karena sangat mendasar untuk menunjang hidup. Lalu ada kesejahteraan psikis, dimana guru dimerdekakan dalam berfikir dan bersikap. Karena yang menjadikan karakter murid ialah sikap dan cara berfikir guru. Disinilah kesejehteraan guru berdampak pula pada kesejahteraan murid,” terang Asep.

Asep menjelaskan bahwa tipe model semacam itu sudah diaplikasikan di lembaga filantropi seperti Dompet Dhuafa.

“Dompet Dhuafa telah menerapkan hal tersebut. Sebelum kita rekrut guru, maka kita lihat dulu besaran UMK setempat, maka akan kita berikan gaji lebih dari itu (UMK setempat). Namun yang lebih penting, kita bekali mereka dengan skill-skill seperti mendongeng, menulis, meneliti. Sehingga pembelajaran yang diberikan kepada murid pun akan inovatif. Di sinilah kesejahteraan guru berimplikasi pada kesejahteraan murid,” tambah Asep Sapaat, dilansir dompetdhuafa.org.

Advertisement