BAGI mayoritas penduduk Indonesia, beras adalah komoditi strategis, karena dikonsumsi di hampir seluruh wilayah sebagai bahan makanan pokok, jadi stok dan pengadaan dan juga harganya harus terus terjaga.
Namun masalahnya, akibat dampak tiga cuaca berbeda yang terjadi pada awal 2024, akan terjadi defisit beras dibarengi kenaikan harga sesuai hukum ekonomi yakni keseimbangan antara permintaan dan penawaran.
Indonesia, menurut Plt Kepala BPS Amalia Adiningrat baru-baru ini, masih memiliki surplus beras sebanyak 270.000 ton selama periode Januari – Desember 2023 walau terkena dampak El Nino dan La Nina yang berkontribusi menurunkan produksi padi secara nasional.
Namun, pada Januari akan terjadi defisit beras 1,61 juta ton dan Februari sebanyak 1,22 juta ton sehingga Amalia mengingatkan, perlu diantisipasi agar harganya tidak melonjak lagi
Untuk itu, Kastaf Kepresidenan Moeldoko dan Direktur Pembenihan Hortikultura, Ditjen Hortikultura, Kementan Pertiwi Nashwari mengingatkan pentingnya mengantisipasi kondisi cuaca di setiap wilayah sentra produksi beras guna mengoptimalkan hasil panen musim tanam.
Pane padi tahun ini diperkirakan akan mundur pada April atau Mei akibat dampak El Nino tahun lalu , sementara produksi padi nasional diperkirakan juga akan turun pada Desember 2023 hingga Maret 2024.
Titik terendah produksi padi akan terjadi pada Januari dan Februari, sehingga persediaan sepanjang dua bulan tersebut dalam keadaan kritis dan baru mulai meningkat pertengahan Maret dan puncaknya pada April 2024.
Sedangkan mengacu pada informasi BMKG, El Nino di Indonesia memang sudah mulai berakhir atau tidak sekuat pada Juni – Oktober 2023, namun demikian tidak seluruh wilayah di Indonesia kondisi cuacanya sama di awal 2024.
Ada wilayah yang mulai kering, sehingga belum bisa ditanami pada, ada juga yang suah basah sehingga musim tanam bisa dimulai dan ada juga wilayah rawan banjir akibat curah hujannya berlebihan namun sudah memulai tanam padi.
Wilayah-wlayah tersbut, lanjut Amalia, perlu dipetakan berikut dengan luas tanamnya, juga antisipasi terutama daerah dengan curah hujan tinggi. “Jangan sampai,saat panen justeru kebanjiran, “ ujarnya.
Sementara Sekretaris Badan Pangan Nasional Sarwo Edhie mengungkapkan, saat ini stok pangan milik badan usaha pangan pemerintah sangat kecil dibandingkan kebutuhan nasional bulanan. Per 2 Januari ‘24, stok beras Bulog hanya 1,36 juta ton atau lebih rendah dari kebutuhan nasional 2,54 juta ton per bulan.
Persedian beras dalam jumlah cukup juga diperlukan di tengah tahun politik menyongsong Pemilu Serentak 2024, Ramadhan dan Idhul Fitri.





