JAKARTA, KBKNEWS.id — Pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak membuat Ahmad Satibi atau Memed menyerah. Di usia 40 tahun, ia justru bangkit dan mengubah keterampilan menjadi jalan baru untuk menopang keluarganya.
Memed merupakan kepala keluarga dengan seorang istri dan empat anak. Ketika perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan akibat dampak pandemi Covid-19, ia harus kehilangan pekerjaan.
Pesangon yang diterima kemudian digunakan sebagai modal berjualan gorengan. Setiap hari, Memed berusaha menjaga kebutuhan keluarganya tetap terpenuhi. Di tengah kondisi tersebut, ia mendapat informasi mengenai pelatihan servis AC.
Tanpa memandang usia, Memed memutuskan belajar dari awal. Ia mempelajari kelistrikan AC, cara mendeteksi kerusakan, hingga proses bongkar pasang unit pendingin udara. Pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuannya, tetapi juga mengembalikan kepercayaan dirinya.
Setelah mengikuti pelatihan, Memed menjalani magang selama delapan bulan di Utama Sejuk Mandiri (USM). Selama ia magang, sang istri mengambil alih usaha gorengan keluarga.
Kerja keras Memed akhirnya membuahkan hasil. Kompetensi dan kedisiplinannya membuat PT Rokindo Jaya Mandiri tertarik merekrutnya sebagai teknisi di bagian Engineering.
Kini, penghasilan tetap membuat kondisi ekonomi keluarganya lebih stabil. Memed juga menyisihkan sebagian gajinya untuk membeli peralatan servis AC secara bertahap, seperti manifold gauge, pompa vacuum, dan mesin cuci AC.
Ia bercita-cita kembali ke Lebak, Banten, untuk membuka usaha servis AC sendiri sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar.
Kisah Memed menjadi salah satu hasil pendampingan Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa yang menyediakan pelatihan keterampilan kerja dan kewirausahaan bagi masyarakat penerima manfaat, termasuk korban PHK.





