
TIGA pria dewasa, usia masih paruh baya, berlalu-lalang di lobi Hotel Sahida In, Ciputat, Kamis sore (28/7/2016). Raut wajah mereka kelihatan berseri meskipun sebenarnya mereka juga agak tegang dan serius. Berseri karena mereka sudah dipastikan untuk berangkat ke Bali esok hari, tegang karena kasus ‘perbudakan’ yang menimpa anaknya.
Dari kurenahnya, terlihat mereka bukanlah orang Jakarta. Ternyata benar. Mereka adalah Apud berasal dari Purwakarta, Juhdi Suandi dari Subang dan Abdul Latif asal Karawang. Ketiganya sedang menunggu teman dari Lampung, Edward dan Muhammad Zainuddin.
Atas inisiatif Lembaga Kemanusiaan Dompet Dhuafa, mereka diinapkan di Hotel Sahida In itu. Tadinya mereka sudah menuju bandara Soekarno -Hatta, karena awalnya Kamis itu Dompet Dhuafa memang berjanji akan menerbangkan mereka ke Bali untuk menemui anak-anak mereka yang terjebak dalam ‘perbudakan’ atau bahasa hukumnya perdagangan orang. Tapi, karena yang dari Lampung belum bergabung dan baru bisa terbang ke Jakarta sore itu, akhirnya berangkat ke Bali ditunda besok hari.
Sesudah magrib, yang ditunggu dari tim dari Lampung akhirnya sampai juga di Ciputat. Mereka adalah Muhammad Zainuddin, 43 tahun, merupakan aktivis pendamping dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Lampung. Dialah yang berperan membantu para orang tua ini untuk membebaskan anak-anak mereka dari jebakan perdagangan orang.
Ketika mendapat laporan ada perdagangan orang ini, Zainuddin langsung bergerak dengan cepat melakukan koordinasi dengan aktivis lembaga perlindungan anak Jakarta, LBH APIK Bali dan Dompet Dhuafa.
Sementara Edward adalah salah seorang dari orang tua, yang anaknya ikut jadi korban perdagangan orang di Bali. Dari anak Edward inilah awalnya kasus ini mulai terkuak. Kebetulan Edward salah seorang jurnalis di Lampung. Punya anak empat, anak pertama yang disayangilah yang terjebak dalam dugaan praktik perdagangan orang tersebut.
SELANJUTNYA : AWAL MULA KASUS TERUNGKAP




